CIVA merupakan acara tahunan yang rutin digelar oleh Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Acara ini berisi pemutaran film yang diproduksi oleh para mahasiswa yang mengambil mata kuliah Sinematografi II. Tema yang diambil dalam acara ini adalah Metamorv “Wajah Cerita Dalam Sinema”.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, kali ini acara CIVA dilaksanakan di Gedung Mohamad Djazman, Kampus 1 UMS, Selasa – Rabu (11-12/12/2018). Luthfi Arfan selaku ketua panitia Civa 4 mengatakan bahwa adanya acara ini sebagai bentuk apresiasi kepada para mahasiswa yang berhasil menyelesaikan produksi film mereka. “Ini sebagai apresiasi buat kami dari angkatan setelah membuat film,” katanya.

Dia juga menjelaskan perbedaan antara CIVA tahun ini dengan tahun sebelumnya ada pada jumlah film yang diputar. Selain itu juga dia menjelaskan bahwa di tahun ini terdapat inovasi lebih dalam pembuatan film disbanding tahun sebelumnya.

“Kalau yang tahun kemarin filmnya Cuma 22, sekarang 28, jadi lebih banyak film nya. Terus kami kan angkatan 2016 lebih baru, tentu inovasi film nya lebih bagus daripada tahun kemarin,” jelasnya.

Dalam acara CIVA ini ada beragam genre yang disuguhkan, di antaranta horror, romance, psikologikal, dan ada juga yang genrenya campuran. Dari ke 28 film yang diputar di acara ini, dibagi menjadi 2 hari dengan proporsi hari pertama sebanyak 18 film dan di hari kedua 10 film.

Pada hari kedua jumlah filmnya lebih sedikit dikarenakan di akhir acara akan ada apresiasi karya terbaik sesuai dengan nominasi yang ditentukan oleh panitia. Adapun nominasi karya terbaik yang akan diberikan adalah best sound, best cinematografer, best DOP, best of the best, dan lain-lain.

Dosen Sinematografi II, Iswahyudi Tejo Yuwono dalam kesempatan ini berharap agar dengan adanya kegiatan ini para mahasiswa mendapatkan manfaat yang besar. Selain itu dia berpesan agar apa yang telah mereka kerjakan dapat menjadi pengalaman yang berharga.

(Saya pesan jadikan ini pengalaman yang berharga karena siapa tahu para mahasiswa nanti akan terjebak pada pekerjaan yang sama,” ucapnya. (Khairul)

Oleh : Khairul Syafuddin