PR DI ERA DIGITAL : COMFEAST 2026 BAHAS STRATEGI DIGITAL PRESENCE DAN CREATIVE BRANDING

SURAKARTA – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) melalui rangkaian acara Communication Festival (COMFEAST) 2026 sukses menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “PR in the Digital Battlefield: Mastering Digital Presence and Creative Branding” pada Kamis (21/5/2026) di Auditorium Mohammad Djazman. Kegiatan ini menghadirkan praktisi komunikasi sebagai pembicara untuk membahas tantangan dunia public relations di tengah pesatnya perkembangan media digital.

Seminar nasional ini merupakan salah satu rangkaian acara Communication Festival (COMFEAST) 2026 yang diselenggarakan oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi peminatan Public Relations. Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan mengenai pentingnya membangun kehadiran digital (digital presence) dan strategi creative branding yang efektif di era media sosial.

Menurut koordinator acara Seminar COMFEAST 2026, Intan Herliyana Safira, tema seminar dipilih karena dunia digital saat ini telah menciptakan persaingan komunikasi dan branding yang semakin ketat. Praktisi public relations tidak hanya dituntut mampu menyampaikan informasi kepada publik, tetapi juga harus kreatif dalam membangun citra serta menjaga eksistensi organisasi maupun perusahaan di ruang digital.

“Seminar ini hadir untuk memberikan wawasan mengenai pentingnya strategi digital presence dan creative branding di era media sosial. Saat ini hampir seluruh aktivitas komunikasi dan branding dilakukan melalui platform digital sehingga individu, organisasi, maupun perusahaan perlu memiliki identitas yang kuat agar mampu dikenal dan dipercaya publik,” jelas Intan.

Ia juga mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam penyelenggaraan seminar adalah menciptakan konsep yang tetap relevan dan menarik bagi audiens di tengah banyaknya acara serupa yang beredar di media digital. Selain itu, panitia juga harus memastikan pemilihan narasumber yang sesuai dengan tema serta memaksimalkan promosi melalui media sosial, salah satunya melalui akun Instagram @Comfeast2026.

Pada sesi pertama, Avianto Nugraha Putra, seorang Communication Specialist, membahas pentingnya pemahaman mengenai isu dan krisis dalam dunia public relations. Ia menjelaskan bahwa isu dan krisis merupakan dua hal yang berbeda, namun saling berkaitan.

 

“Isu bukan berarti krisis. Isu adalah masalah kecil yang masih bisa dikendalikan, tetapi ketika tidak ditangani dengan baik, isu dapat berkembang menjadi krisis yang merugikan perusahaan,” ujarnya.

Avianto memberikan contoh sederhana yang dekat dengan kehidupan mahasiswa. Menurutnya, tidak mengerjakan tugas dapat dianggap sebagai isu. Namun, jika terus dibiarkan tanpa penyelesaian, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi krisis, misalnya penurunan nilai akademik hingga berdampak pada indeks prestasi kumulatif (IPK).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seorang public relations harus mengedepankan kejujuran dalam menyampaikan informasi kepada publik. Di era digital saat ini, penyebaran informasi berlangsung sangat cepat sehingga penanganan krisis tidak lagi dapat dilakukan secara lambat seperti sebelumnya.

Sementara itu, pembicara kedua, Rahardian Galang Wicaksono, seorang Brand Director, membahas mengenai fenomena komunikasi digital melalui materi bertajuk “Semiotika: Anatomy of a Digital Glitch”. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa pola komunikasi di media sosial saat ini tidak lagi dapat sepenuhnya bergantung pada algoritma maupun iklan semata.

Menurut Galang, masyarakat digital saat ini cenderung lebih memperhatikan aktivitas yang relevan dengan kehidupan mereka dibandingkan pesan promosi yang bersifat langsung. Oleh karena itu, perusahaan maupun organisasi perlu memahami perilaku audiens agar dapat membangun komunikasi yang lebih efektif.

Ia juga menekankan bahwa krisis merupakan sesuatu yang hampir tidak dapat dihindari dalam kehidupan sebuah organisasi atau brand. Karena itu, respons yang cepat dan jujur menjadi kunci utama dalam menjaga kepercayaan publik.

“Ketika sebuah brand melakukan kesalahan, sebagai PR kita harus berani mengatakan maaf. Itu berarti kita mengakui dan memvalidasi bahwa memang terjadi kesalahan yang perlu diperbaiki,” jelasnya.

Melalui seminar nasional ini, panitia berharap peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai strategi komunikasi digital, manajemen isu dan krisis, serta creative branding yang adaptif terhadap perkembangan teknologi. Selain menambah wawasan, peserta diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh baik di lingkungan akademik maupun dunia kerja pada masa mendatang.

 

Radik FM