Forum Open Source Teknik Informatika (Fosti) merupakan organisasi kemahasiswaan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Organisasi ini bergerak di bidang pengembangan software open source atau biasanya lebih dikenal dengan software gratisan.
Guna mendukung tujuan Fosti sendiri dalam meningkatkan skill kreatifitas mahasiswa, khususnya di bidang pemrograman, setiap tahun mereka memiliki program kerja berupa seminar maupun workshop. Sama halnya di tahun-tahun sebelumnya, kali ini Fosti menyelenggarakan Seminar dan Workshop dua hari berturut-turut dari Senin sampai Selasa (1-2/5/2017).
Seminar dan workshop di tahun ini, Fosti berusaha mengangkat tema Let’s Secure Your Code “Patching Web and Reverse Engineering”. Pembicara dalam acara tersebut merupakan orang yang ahli dibidang tersebut, yaitu Budi Komarudin yang merupakan Ketua Backbox Linux Indonesia dan Satria Ady Pradana yang merupakan Security Reseacher di Metrodata Group.
Pemilihan tema Let’s Secure Your Code “Patching Web and Reverse Engineering” tentu memiliki sebuah tujuan. Fendy Finanda selaku Ketua Umum Fosti menjelaskan bahwa tema tersebut diangkat karena melihat sebuah web maupun software yang telah susah payah dibuat, akan tetapi dengan mudahnya dibajak oleh pihak yang tidak bertanggungjawab.
“Sebenarnya dari Fosti yang bergerak di bidang open source ini merasakan bagaimana susahnya membuat karya, namun dengan seenaknya para pihak yang tidak bertanggungjawab itu membobol dan memanfaatkan karya kita. Dari permasalahan itulah kami mengangkat tema ini,” ungkapnya.
Sesuai dengan tema nya, pembahasan mengenai materi tersebut memiliki keterkaitan. Ketua Umum Fosti ketika diwawancarai juga menjelaskan bahwa dalam dunia IT kalau tidak membicarakan mengenasi software pasti membicarakan tentang web.
Dalam patching web itu sendiri membahas mengenai bagaimana celah yang dilihat para hacker untuk membajak sebuah web dan bagaimana menutup celah tadi. Sedangkan untuk reverse engineering membahas mengenai bagaimana sebuah software yang seharusnya berbayar namun dapat di crack sehingga menjadi gratis.
“Untuk menganalisa adanya celah yang ada di web yang kita buat tersebut bisa dilakukan secara manual. Namun, di jaman sekarang ini juga banyak software yang dapat digunakan untuk menganalisa hal tersebut, diantaranya Zap dan Burpsuite,” ungkap Fendy dalam penjelasannya.
Namun, dalam pengaplikasian materi yang disampaikan pada Seminar dan Workshop tersebut, para peserta diwajibkan menginstal Operation System (OS) Linux pada laptop yang akan digunakan.
Chudlori selaku ketua panitia kegiatan ini mengungkapkan bahwa diadakannya seminar dan workshop ini penting mengingat biaya dalam pembuatan web itu sendiri terbilang relatif mahal, sehingga masyarakat ataupun mahasiswa perlu mengetahui bagaimana caranya untuk mengamankan web yang kita kelola.
“Biaya pembuatan dan pengelolaan web itu tidaklah murah, dari hal itu kita harus tahu bagaimana cara kita mengamankan web yang kita miliki tersebut agar tidak mudah dibobol oleh para hacker,” ungkapnya.
Selain itu, dia juga menambahkan bahwa di zaman sekarang cukup banyak masyarakat yang memanfaatkan wifi untuk berselancar di dunia maya. Akan tetapi tanpa kita sadari, jika menggunakan wifi sembarangan sebenarnya cukup berbahaya, karena bisa jadi wifi tersebut dibuat oleh hacker yang berkemungkinan bisa mencuri data kita melalui user login.
“Tanpa kita sadari jika menggunakan wifi sembarangan merupakan hal yang berbahaya karena bisa jadi wifi tersebut dibuat oleh hacker yang berkemungkinan bisa mencuri data kita melalui user login. Dari hal tersebut maka kami juga ingin mencoba membentengi masyarakat dari kejahatan cyber,” tambahnya. (Khairul)
