Tahun TS-2 (2018)

  1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan pertama

2. Tingkat Kesesuaian Bidang Kerja

 

Tahun TS-3 (2017)

  1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan pertama

2. Tingkat Kesesuaian Bidang Kerja

 

Tahun TS-4 (2016)

  1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan pertama

2. Tingkat Kesesuaian Bidang Kerja

 

Keterangan:

  1. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan pertama
    • Jumlah lulusan program studi dalam 3 tahun (TS-4 s.d. TS-2):367
    • Jumlah lulusan program studi dalam 3 tahun (TS-4 s.d. TS-2) yang terlacak: 141 mahasiswa (38,4%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan waktu tunggu kurang dari 6 bulan: 116 mahasiswa (82,3%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan waktu lebih atau sama dengan 6 bulan dan kurang atau sama dengan 18 bulan: 23 mahasiswa (16,3%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan waktu tunggu lebih dari 18 bulan: 2 mahasiswa (1,4%)

 

  1. Tingkat Kesesuaian Bidang Kerja
    • Jumlah lulusan program studi dalam 3 tahun (TS-4 s.d. TS-2) yang terlacak: 111 mahasiswa (30,24%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan kesesuaian bidang kerja rendah. 20 mahasiswa (18%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan kesesuaian bidang kerja sedang: 39 mahasiswa (35,1%)
    • Jumlah lulusan terlacak dengan kesesuaian bidang kerja tinggi: 52 mahasiswa (46,8%)

Himpunan Mahasiswa Komunikasi (HIMAKOM) periode 2020/2021 pada hari Selasa, 5 Januari 2021, pukul 10.00 WIB hingga 11.00 WIB melangsungkan kegiatan silaturahmi secara virtual dengan Prodi Ilmu Komunikasi. Acara yang dilakukan secara online ini, dipandu oleh Syafi Rakha Muwaffaq selaku Ketua Umum HIMAKOM periode 2020/2021.

Kegiatan silaturahmi ini dihadiri oleh Badan Pengurus Harian (BPH) HIMAKOM yang terdiri dari Ketua Umum, Wakil Ketua Umum, Sekretaris Umum, dan Bendahara Umum. Serta Badan Pengurus Inti (BPI) HIMAKOM yang terdiri dari Ketua dan Sekretaris dari masing-masing Divisi yang ada di HIMAKOM.  Dan juga Bapak/Ibu Dosen dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Kegiatan ini bertujuan untuk menjalin silaturahmi antara HIMAKOM dengan Prodi Ilmu Komunikasi yang juga diharapkan kedepannya mampu bekerja sama untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih baik bagi Mahasiswa Ilmu Komunikasi secara keseluruhan. (Oktariani Akhirin)

Isu ketimpangan dan ketidakadilan gender yang terjadi tidak hanya pada perempuan namun juga pada laki-laki dan kelompok minoritas seperti disability mendorong HIMAKOM (Himpunan Mahasiswa Komunikasi) UMS dan PUKAPS (Pusat Kajian Perempuan Solo) menginisiasi pembahasan gender dalam kehadirannya di wajah media. Isu gender ini menjadi isu yang agaknya baru di mata mahasiswa ilmu komunikasi UMS, dimana exposure tentang isu gender jarang didapatkan oleh masyarakat Solo dan lebih dapat diakses oleh masyarakat yang ada diperkotaan besar seperti Jakarta, baik secara akademis maupun non-akademis.

Hal inilah yang menjadikan HIMAKOM UMS bersama PUKAPS. SOLO – Minggu, 1 November 2020, pukul 19.00 – 21.30 WIB. sebagai komunitas perempuan di Solo berkolaborasi dalam menyajikan edukasi-edukasi tentang isu gender dan kaitannya dengan ilmu komunikasi. “Tujuannya, selain agar mahasiswa di UMS dapat exposure lebih soal isu gender dan media, temen-temen juga bisa menjadikan webinar kali ini sebagai media belajar untuk menulis penelitian tentang representasi gender di media sebagai penelitian yang memiliki dampak untuk masyarakat dan dapat memberikan perubahan yang berarti, sekalipun kecil” pungkas Luxy, mahasiswa ilmu komunikasi UMS, CEO dan founder PUKAPS.

Di tengah berbagai keterbatasan di masa pandemi ini, peserta yang hadir tetap menunjukkan antusiasmenya terhadap topik yang dibahas. 150 peserta lebih hadir untuk mengikuti webinar yang diadakan melalui zoom meeting tersebut. HIMAKOM UMS dan PUKAPS mengundang pembicara yang tidak tanggung-tanggung, Askarina Sumiran Bintari, BSc., MSc., yang memaparkan materinya melalui video conferences dari Swedia. Askarina menempuh pendidikan S1 di Universitas Indonesia in Communication Science dan S2 di LSE (London School of Economics, UK) in Gender, Media and Culture sekaligus sebagai penerima Chevening Scholarship dari pemerintah Inggris.

Dengan kehadiran pembicara yang fokus dalam kajian gender dan media, diharapkan agar mahasiswa UMS dapat memperoleh insight secara langsung dan jelas tentang gambaran, masalah dan tantangan yang dihadapi dalam kajian gender dan media di Indonesia. Diskusi berjalan begitu intents, pertanyaan-pertanyaan tentang kekerasan berbasis gender online, pelecehan seksual online, konstruksi yang dibentuk media yang membuat label-label ketidakadilan gender pada laki-laki dan perempuan, hingga dampak domino konstruksi gender dalam media yang menciptakan ketimpangan kelas dan sosial menjadi pembahasan empuk dalam webinar malam itu.

Banyak tuntutan yang diciptakan oleh media, membentuk kebiasaan dan menjadi budaya, yang ternyata menciptakan ketimpangan gender. Seperti laki-laki dituntut menjadi kuat, tidak boleh menangis atau menunjukkan kesedihannya agar tidak terlihat lemah, dan kepada perempuan yang selalu dibentuk sebagai makhluk seksual, lemah, tak berlogika dan emosional. Hal tersebut menciptakan efek domino yang berkepanjangan, seperti jika perempuan memimpin, publik akan menolaknya hanya karena alasan bahwa perempuan adalah makhluk emosional, padahal hal tersebut hanya konstruksi masyarakat juga bentukan media, bagaimana media membentuk perempuan menjadi makhluk emosional.

Apakah perempuan bisa menjadi pemimpin? Apakah laki-laki boleh menangis? TENTU BOLEH, TENTU TIDAK MELANGGAR KODRAT, karna kodrat adalah suatu yang datang dari Tuhan dan tidak dapat dirubah atau dipertukarkan, seperti hal-hal biologis kita (SEX). Sedangkan memimpin, menangis, logis, emosianal, kuat atau lemah, adalah suatu yang bisa dibentuk oleh orang tua kita, keluarga kita, lingkungan, pendidikan, budaya, masyarakat kita hingga media yang kita lihat. Dimana hal tersebut adalah konstruksi (bentukan) sosial, yang secara akademis disebut sebagai Gender.

Terakhir, HIMAKOM UMS dan PUKAPS mempersembahkan kegiatan ini sebagai medium untuk mahasiswa belajar membongkar bagaimana laki-laki dan perempuan dibentuk menjadi apa yang media harapkan. Selain itu, pembahasan ini juga menjadi pintu awal bagi public untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya representasi gender yang setara di media untuk mewujudkan media yang lebih berkeadilan dan mencerdaskan, melakukan penelitian tentang representasi gender yang berdampak, serta menciptakan masyarakat yang juga sensitive gender. Semoga pembahasan gender dalam perspektif ilmu komunikasi di UMS dapat menjadi lebih beragam dan berdampak. (ed.)

Meskipun baru saja mendapatkan predikat akreditasi dengan nilai A pada 15 September 2020 silam, Prodi Ilmu Komunikasi UMS sudah bersiap untuk menyongsong borang akreditasi 9 standar. Salah satu upaya yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Surakarta dalam mempersiapkan prodi untuk menghadapi 9 kriteria adalah melalui proses Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) melalui aktivitas Audit Mutu Internal (AMI). AMI adalah proses audit yang diselenggarakan oleh universitas untuk memantau efektivitas kinerja prodi atau unit yang berada di dalamnya.

 

Audit Mutu Internal (AMI) tahun 2019/2020 melibatkan 87 auditi dan 48 auditor dan diadakan melalui daring dikarenakan adanya pandemi covid-19. Aktivitas audit berlangsung pada rentang waktu 12-24 Oktober 2020 dengan ruang lingkup audit KPI (Key Performance Indicator) dan efektivitas pelaksanaan RPPS (Renop) dalam satu tahun anggaran. Prodi Ilmu Komunikasi UMS menjalani proses AMI pada hari Selasa, 20 Oktober 2020 dengan melibatkan struktural prodi dibantu dengan taskfroce akreditasi beberapa waktu lalu. Auditor yang bertugas mengaudit prodi adalah, Dr. Faizah Betty Rahayuningsih, A., S.Kep., M.Kes sebagai auditor 1 dan Wuryaningsih Dwi Lestari, M.M, selaku auditor 2.

Proses audit secara keseluruhan berjalan dengan lancar tidak terdapat gangguan teknis yang dialami saat berjalnnya audit. Kaprodi Ilmu Komunikasi, Dr. Dian Purworini mengaku pihaknya telah mempersiapkan proses audit ini selama kurang lebih 3 minggu sebelum pelaksanaan.

“Kami (tim taskforce) sudah mempersiapkan bukti fisik penunjang audit, prosesnya cukup rumit karena memang standar yang dipakai ini benar-benar baru, tapi Alhamdulillah proses persiapan dapat berjalan baik karena kerja tim yang solid,” ungkapnya.

Disinggung mengenai kesiapan prodi dengan 9 kriteria ini, dirinya mengaku prodi telah mempersiapkan beberapa langkah ke depan.

“Hal yang krusial dan mendesak pastinya kurikulum yang akan segera di review, karena 9 kriteria ini benar-benar menuntut luaran dari kinerja dosen dan mahasiswa, jadi kita akan persiapkan itu,” tambahnya.

Proses audit internal berlangsung selama kurang lebih tiga jam melalui aplikasi zoom. Dalam audit kali ini Prodi Ilmu Komunikasi mendapatkan nilai KPI sebesar 2,71 dari keseluruhan 36 indikator yang dinilai dan Efektivitas dan Keterlaksanaan RPPS sebesar 100 persen.

“Hasil dari KPI memang perlu mendapatkan perbaikan di beberapa poin karena nilainya masih minim, namun kami sangat puas karena keberlaksanaan kegiatan kami sempurna 100 persen,”.

“Prodi akan senantiasa melihat ruang peningkatan dari audit ini, karena ini sebagai bentuk evaluasi prodi ke depan. Tantangannya makin berat ke depan, prodi akan senantiasa melakukan perbaikan,” ungkap  Kaprodi Ilmu Komunikasi saat menutup sesi wawancara.