Penyambutan mahasiswa baru di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) sudah menjadi kegiatan yang setiap tahun dilaksanakan. Salah satu bentuk penyambutannya adalah melalui kegiatan Grand Opening Masta (Masa Ta’aruf) yang dilaksanakan di depan masjid Sudalmiyah Rais dan Lapangan kampus 2 UMS, Selasa (14/8/2018).

Kegiatan yang dihadi oleh 8000 mahasiswa baru tersebut secara langsung disambut oleh Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si. Secara langsung dia memberikan ucapan selamat datang kepada mahasiswa baru yang telah diterima menjadi mahasiswa UMS. Selain itu dia juga mengucapkan rasa terimakasihnya kepada para panitia yang telah menyiapkan acara tersebut.

“Saya ucapkan selamat datang kepada mahasiswa baru, anda semua berada di tempat yang tepat untuk menimba ilmu dan keahlian menuju masa depan yang semakin baik. Saya juga berterima kasih kepada panitia yang telah sukses membuat acara penyambutan mahasiswa kali ini terasa berbeda dari sebelumnya,” ungkapnya.

Grand opening Masta 2018 ini berbeda dengan kegiatan yang telah diselenggarakan di tahun-tahun sebelumnya. Pasalnya, tahun ini para mahasiswa baru membuat formasi koreografi yang bertuliskan “UMS, 60 tahun untuk Negeri”. Formasi ini juga sebagai bentuk kado dari UMS dalam menyambut Hari ulang Tahun ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia yang jatuh pada 17 Agustus 2018 mendatang.

Rektor UMS menyampaikan bahwa Muhammadiyah yang telah lahir di Indonesia memiliki peran serta yang cukup kuat untuk kemajuan bangsa ini, khususnya dalam hal pendidikan. Apalagi Muhammadiyah sendiri telah lahir sebelum Indonesia meraih kemerdekaan.

”Muhammadiyah yang lahir terlebih dulu dari Negara Indonesia, punya kewajiban untuk menjaga dan mengisi bangsa ini dengan karya-karya yang berkemajuan untuk bangsa. Salah satunya lewat pendidikan, termasuk melalui Kampus UMS ini,” ungkapnya.

Selain Rektor UMS, kedatanganmahasiswa baru tersebut juga disaksikan oleh Dr. Abdul Mu’ti selakuSekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Disana, dia memberikanorasi kebangsaan yang ditujukan kepada mahasiswa baru. Dia jugaberharap agar nantinya mereka dapat meneruskan perjuangan sebagaikader persyarikatan Muhammadiyah yang unggul di semua bidang.(Khairul)

Oleh : Khairul Syafuddin

Muhammadiyah yang selalu berjuang untuk negeri kini kembali menggelar Kuliah Kerja Nyata Muhammadiyah untuk Negeri (KKN Mu). Kegiatan tersebut diikuti oleh seluruh mahasiswa dari universitas Muhammadiyah, salah satunya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Tahun ini terhitung ada 23 mahasiswa dari UMS yang mengikuti KKN Mu. Ini merupakan kali kelima KKN Mu.

Tahun 2018 merupakan tahun kelima KKN Mu digelar. Sebelumnya kegiatan tersebut dilakukan di beberapa tempat, di antaranyaBandarlampung (2014), Bojonegoro (2015), Gorontalo (2016), Palembang (2017), dan tahun ini di Purbalingga, Jawa Tengah.

Menurut Kuswaji Dwi Priyono selaku Wakil Ketua Bidang Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UMS, pada tahun 2018 ada 32 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dengan jumlah mahasiswa 625 yang turut berpartisipasi dalam KKN Mu.

Diungkapkan bahwa delegasi dari UMS telah diberangkatkan ke lokasi KKN Mu pada Selasa (31/7/2018), menuju kampus Universitas Muhammadiyah Purwokerto guna menerima pembekalan materi KKN-Mu bersama delegasi dari kampus-kampus lain.

“Pada 3 Agustus para mahasiswa akan diserahkan kepada pemerintah Kabupaten Purbalingga, selanjutnya dibagi menjadi 65 kelompok sesuai jumlah desa yang ada,” jelasnya.

Dia juga menjelaskan bahwa kegiatan tersebut akan dilaksanakan dalam kurun waktu kurang lebih satu bulan, Jumat – Kamis (3-6/9/2018). Disana para mahasiswa akan melakukan berbagai kegiatan terkait kelimuan, keagamaan, seni dan olahraga, bidang tematik dan non tematik. Bidang tematik kali ini akan dilaksanakan di daerah rawan bencana. Di daerah tersebut mahasiswa akan melakukan pendampingan kepada masyarakat dalam pembentukan Desa Tangguh Bencana.

“Kegiatan KKN dilaksanakan di luar kampus dengan maksud untuk meningkatkan relevansi pendidikan tinggi dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat akan ilmu pengetahuan, teknologi, serta seni untuk melaksanakan pembangunan yang semakin meningkat, serta meningkatkan persepsi mahasiswa tentang relevansi antara kurikulum yang dipelajari di kampus dengan realita pembangunan dalam masyarakat,” jelasnya.

Dalam KKN ini mahasiswa boleh dan bahkan dianjurkan mengadakan kegiatan di luar bidang studinya. Misalnya, mahasiswa Fakultas Pertanian boleh melakukan kegiatan di bidang kesehatan dan gizi, mahasiswa FKIP boleh melakukan kegiatan di bidang pemerintahan dan peternakan, dan mahasiswa Fakultas Kedokteran boleh melakukan kegiatan di bidang pendidikan dan pemerintahan.

“Selain itu, dalammelaksanakan KKN, pikiran dan perhatian mahasiswa diarahkan untuktidak hanya terpaku pada pembuatan laporan ilmiah pada bidang ilmuyang bersangkutan saja, namun juga diarahkan untuk memusatkanperhatiannya pada peningkatan komitmen kepada masyarakat di lokasitempat kerja KKN,” ujar Kuswaji Dwi Priyono. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

Penyambutan mahasiswa baru (maba) merupakan kegiatan rutin yang setiap tahun dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kegiatan tersebut dikemas dalam rangkaian Masa Ta’aruf Penyambutan Mahasiswa Baru (MASTA-PMB) 2018. MASTA-PMB tingkat universitas yang digelar pada tahun ini mengambil tema “Internalisasi Nilai Keilmuan dan Keislaman Menuju Kampus yang Memberi Arah Perubahan”.

Pada hari pertama MASTA-PMB 2018, Senin (23/7/2018), Ahmad Kholid Al-Ghofari, MT selaku Kepala Bagian Penalaran Kreatifitas dan Softskill Kemahasiswaan UMS menuturkan bahwa MASTA-PMB universitas ini masing-masing kloter ada 2 hari pelaksanaan yang terbagi atas 8 kloter. Hal ini karena UMS menargetkan pada tahun ini akan ada 7500 maba yang masuk.

“Jadi MASTA-PMB universitas ini ada 2 hari. Masing-masing kita sebut sebagai kloter yang totalnya 8 kloter. Hal ini karena UMS menargetkan untuk tahun ini ada sekitar 7500 mahasiswa baru. Sehingga kita ikutkan mereka di 8 kloter ini yang nantinya akan selesai pada 11 Agustus 2018,” tuturnya.

Dia menambahkan bahwa setiap kloter ada 1000 mahasiswa yang di undang. Mereka semua kemudian didistribusikan menjadi 4 tempat, yaitu 325 maba di ruang seminar lantai 7 Gedung Induk Siti Walidah, 275 maba di ruang seminar lantai 5 Pasca Sarjana, 200 maba ruang seminar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) gedung C, dan 200 maba lainnya di lantai 4 Fakultas Farmasi.

Kegiatan MASTA-PMB 2018 ini juga berdasarkan SK dari Dikti yang menyebutkan bahwa Rektor memiliki kewajiban untuk menyambut maba yang masuk di perguruan tingginya. Kholid menyebutkan bahwa dalam rangka menanggapi hal tersebut, Rektor UMS juga telah menerbitkan SK untuk penyelenggaraan kegiatan tersebut.

”Dalam hal ini UMS, melalui Pak Rektor juga sudah menerbitkan SK untuk MASTA-PMB. Di SK tersebut menyampaikan apa saja toh sebenarnya prosesi penyambutan bagi mahasiswa baru di UMS, khususnya tingkat universitas. Di dalamnya sudah disampaikan semacam kurikulum,” ungkapnya.

Penyelenggaraan MASTA-PMB 2018 ini terdiri dari beberapa tahap. Pertama, kegiatan Masta PMB Universitaria yang materinya di tingkat umum universitas. Kedua, MASTA-PMB ke-IMM-an, dan terakhir Expo Organisasi Kemahasiswaan (Ormawa). Melalui ketiga tahapan ini UMS berusaha mengenalkan apa itu Muhammadiyah, kegiatan yang ada di lingkungan UMS, hingga kegiatan yang ada di Ormawa. Selanjutnya, setelah di tingkat universitas selesai akan dilanjutkan ke tingkat fakultas yang kewenangannya diserahkan oleh Dekan dan Prodi.

Diungkapkan pula oleh Kholid juga bahwa dalam SK tersebut disampaikan MASTA-PMB ini adalah kegiatan yang wajib diikuti oleh seluruh mahasiswa di UMS. Hal ini karena dalam mata kuliah lifeskill nantinya setiap mahasiswa mulai dari angkatan 2016 hingga sekarang harus memiliki sertifikat mengikuti MASTA-PMB. Artinya, apabila tidak mengikuti rangkaian MASTA-PMB ini maka mereka tidak akan lulus pada mata kuliah wajib tersebut.

Dia juga berharap seusaimengikuti kegiatan MASTA-PMB 2018 ini mereka dapat lebih siap untukmenjadi mahasiswa di lingkungan UMS. “Harapannya tentu mahasiswabaru bisa lebih siap untuk memasuki dunia perguruan tinggi, dankhususnya di UMS lingkungan Muhammadiyah,” harapnya. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

Keberagaman budaya, agama, hingga ethnis merupakan kelebihan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Melalui keberagaman ini pula bangsa Indonesia kini dapat meraih kemerdekaan. Melihat hal tersebut, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) memberikan ruang untuk terselenggaranya kegiatan ekspedisi dan dialog kebangsaan, Selasa (15/05/2018).

Kegiatan yang dilaksanakan bersama Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah serta tim Ekspedisi Kebangsaan Pemuda Muhammadiyah tersebut digelar di halaman depan Gedung Induk Siti Walidah UMS. Tema yang diambil dalam acara ini adalah Menggembirakan Keberagaman. Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si menjelaskan bahwa kebersamaan dalam keberagaman ini adalah salah satu misi Muhammadiyah.

Kebersamaan dalam keragaman yang kini merupakan salah satu misi yang diemban atau diusung oleh Kyai H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah pada tahun 1912 yang lalu,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini terlihat kendaraan Vespa dipajang di depan Gedung Induk SIti Walidah UMS. Vespa tersebut merupakan kendaraan yang digunakan oleh tim Ekspedisi dalam melakukan kunjungan kebangsaannya di setiap daerah. Tim Ekspedisi tersebut juga menunjukkan bahwa melalui keberagaman latar belakang yang dimilikinya mereka tetap dapat bersatu dengan berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika.

Hal ini juga menjadi sebuah pandangan ke depan bahwa Muhammadiyah juga harus menerima keberagaman ini, khususnya dalam hal budaya kontemporer, seperti budaya vespa maupun budaya komunitas BMX yang juga tampil di acara tersebut. Hal ini dikarenaka ke depan budaya-budaya yang bersifat kontemporer di Indonesia akan terus berkembang, sehingga mau tidak mau Muhammadiyah harus menggandeng dan merangkul mereka untuk mencapai kebersamaan.

Dr. Sofyan Anif, M.Si juga menceritakan kisah berdirinya PKO (Penolong Kesengsaraan Oemat) pada tahun 1918. Berdirinya PKO pada saat itu tidak hanya digunakan untuk rumah sakit umat muslim saja, namun untuk semua golongan.

Ketika KHA Dahlan mendirikan rumah sakit PKO. Disini terdapat pesan ketika berdiri rumah sakit tidak boleh yang di tolong itu hanya orang-orang muslim. Tapi semua golongan, semua agama, dari berbagai latar belakang budaya, ras, suku, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa dari awal Muhammadiyah juga telah mengajarkan bahwa sebagai umat muslim diwajibkan untuk menghargai keberagaman. Keberagaman tersebut bukan sebuah alasan terjadinya perpecahan sebuah bangsa, namun menjadi hal penting dalam melakukan sebuah pembangunan.

Dia juga menambahkan bahwa kita sebagai umat Islam dalam hal muamallah harus siap untuk bekerjasama dengan orang yang berlatar belakang berbeda. “Kalau kita berbicara kerjasama, tolong menolong dalam hal muamallah maka Islam dengan tangan terbuka, kita harus bekerjasama dengan orang lain, dengan latar belakang yang berbeda-beda,” tambahnya. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

[twocol_one][/twocol_one] [twocol_one_last][/twocol_one_last]