Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas dalam pelayanannya kepada para mahasiswanya, salah satunya melalui peningkatan jaminan kesehatan. Sebelumnya, UMS sendiri dalam memberikan jaminan kesehatan kepada mahasiswanya hanya melalui Muhammadiyah Medical Centre (MMC), namun mulai tahun ini mereka akan diberikan jaminan kesehatan melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Hal tersebut juga diperkuat oleh pernyataan Dr. Fattah Santoso selaku Wakil Rektor III UMS dalam acara BPJS Goes to Campus yang diselenggarakan di UMS, Sabtu (14/10).

Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan tersebut atas dasar kerjasama antara UMS dengan BPJS Kesehatan dalam meningkatkan program Jaminan Kesehatan Nasional Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Berkat hal tersebut pula, mahasiswa UMS dimulai dari angkatan 2017 dan selanjutnya akan terus mendapatkan jaminan kesehatan dari BPJS.

Dalam kesempatan ini, Dr. dr. EM Sutrisna, M.Kes selaku Dekan Fakultas Kedokteran UMS menuturkan bahwa para mahasiswa yang tahun ini mulai mendapatkan jaminan kesehatan dari BPJS ini masuk dalam kategori kelas 3. Sedangkan nantinya untuk iuran mereka sendiri akan langsung diambil dari SPP yang mereka bayarkan tiap semester.

Jadi, mereka yang mulai tahun ini mendapatkan jaminan BPJS Kesehatan akan masuk ke dalam kategori kelas 3. Selain itu nanti untuk iurannya sendiri akan langsung diambilkan dari pembayaran SPP mereka,” ungkapnya ketika ditemui usai acara.

Selain itu, dia juga menambahkan bahwa dalam pemberian BPJS Kesehatan ini tidak ada yang dobel peserta. Artinya setelah data mereka nanti di screening oleh petugas dan didapatkan bahwa ternyata sebelumnya mereka telah memiliki BPJS Kesehatan, maka data yang lama akan di mutasi ke data yang baru. Sehingga kepemilikan BPJS hanya satu saja.

Agus Purwono selaku Kepala BPJS Kesehatan Kota Solo turut menyampaikan bahwa program BPJS Kesehatan Goes to Campus ini merupakan progam yang dilaksanakan pertama kali di kampus swasta. “UMS merupakan universitas pertama yang bekerjasama dalam mengadakan program BPJS Kesehatan Goes to Campus,” tutupnya. (Khairul)

Penulis : Khairul Syafuddin

[wzslider]

Peningkatan hubungan dan silaturahmi antar universitas sangatlah penting untuk dilakukan. Hal ini dapat dilakukan melalui banyak kegiatan, salah satunya seperti yang dilaksanakan oleh Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dalam kegiatan studi bandingnya ke Universitas Muhammadiyah Surakatra (UMS), Kamis (5/10).

Kunjungan studi banding yang dilaksanakan UAD ke UMS ini dengan membawa 10 orang dari Biro Akademik dan Admisi (BAA). Dalam BAA mereka sendiri juga terdiri dari beberapa bidang lain, seperti Bidang Administrasi dan Evaluasi Akademik, Bidang Marketing dan Pengelolaan Mahasiswa Baru, Pengelola Sistem Manajemen Ruang, Bendahara Penerimaan Mahasiswa Baru, dan Bidang IT nya.

Drs. Dedi Pramono selaku Kepala BAA UAD mengungkapkan kunjungan mereka ke UMS adalah untuk silaturahim dan belajar mengenai sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) di UMS. Pembelajaran yang ingin mereka dapatkan pada kesempatan ini lebih berfokus pada pelaksanaan Computer Based Test (CBT) yang telah diterapkan UMS dalam PMB.

“Tujuan kami melakukan kunjungan kesini yaitu untuk silaturahim dan disamping itu kami benar-benar ingin belajar. Disini kami ingin belajar mengenai sistem CBT yang telah diterapkan di UMS. Untuk mempelajari hal itu juga banyak tempat yang ingin dikunjungi, salah satunya di UMS ini,” ungkapnya dalam kunjungan tersebut.

Kunjungan ini disambut hangat oleh UMS. Dalam sambutan ini, Dr. Triyono selaku Kepala Biro Administrasi Akademik (BAA) UMS menjelaskan bahwa disini mereka belajar bersama untuk saling melengkapi mengenai strategi yang dimiliki UMS maupun UAD. Dia juga menjelaskan bahwa dalam CBT UMS, calon mahasiswa baru dapat melakukan 9 kali tes dengan 3 kali mendaftar.

“Disini kita bersama-sama untuk saling melengkapi kekurangan yang kita miliki. Selain itu, untuk CBT di UMS sendiri, setiap calon mahasiswa baru bisa melakukan tes sebanyak 9 kali dengan 3 kali pendaftaran. Jadi ketika mereka tidak lolos, masih ada kesempatan lagi untuk melakukan tes, dan dalam CBT kemungkinan mereka menemukan soal yang sama sangat kecil sekali,” jelasnya.

Dalam sesi inti kegiatan ini juga, Husni Thamrin, PhD selaku Kepala IT UMS memberikan penjelasan mengenai proses dan tahap pendaftaran mahasiswa baru hingga melakukan CBT. Gambaran secara umum mengenai hal tersebut juga turut ia berikan sehingga tim dari UAD dapat menerimanya secara jelas. (khairul)

Penulis : Khairul Syafuddin

[wzslider]

Mentoring adalah kegiatan yang wajib dilaksanakan oleh para mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Meski pada Sabtu (9/9) telah digelar Grand Opening Mentoring dan English Tutorial Program (ETP) tingkat universitas. Namun setiap fakultas di lingkungan UMS memiliki budaya untuk menyelenggarakan Grand Opening Mentoring Fakultas, salah satunya di Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI), Sabtu (23/9).

Angga Pratama selaku Ketua Koordinator Mentoring Fakultas (KMF) FKI mengungkapkan bahwa sifat dari kegiatan ini tidaklah wajib, namun ini tetap dilaksanakan sebagai sarana pengenalan adik mentor dengan kakak mentor, pembagian kelas, serta pelantikan pengurus KMF FKI.

“Kegiatan ini memang tidak wajib untuk dilaksanakan fakultas, tapi ini adalah untuk menyambut adik-adik, pengenalan dengan kakak mentor, dan pembagian kelas. Selain itu dalam acara ini juga untuk pelantikan pengurus KMF yang termasuk dalam rangkaian acara ini,” ungkapnya ketika diwawancarai dalam acara tersebut.

Dalam acara ini, pengurus KMF FKI mengambil tema Revitalisasi Semangat Al-Qur’an Menuju Pemuda Muslim Berkemajuan. Angga menegaskan tujuan diambilnya tema ini karena dari pengurus KMF FKI berpendapat apabila orang ingin menjadi baik dan keislamannya meningkat harus didekatkan dengan Al-Qur’an.

Yang kami tafsirkan dari pengurus kami pengurus KMF adalah jika orang ingin menjadi baik dan keislamannya meningkat maka harus didekatkan dengan Al-Qur’an. Lalu kalau orang ingin baik tapi tidak didekatkan dengan Al-Qur’an pasti hasilnya nol,” tegasnya.

Acara yang dihadiri sekitar 350 mahasiswa ini berlangsung cukup lancar. Pasalnya selama acara berlangsung mereka terlihat antusias mulai dari pembukaan hingga acara berakhir. Bahkan ketika kajian berlangsung, mereka terlihat memperhatikan materi yang disampaikan Ust. Mujazin selaku pembicara dalam kajian tersebut tanpa ada yang terlihat mengantuk.

Angga berharap melalui kegiatan mentoring ini nantinya dapat mendekatkan adik-adik mentor dengan Al-Qur’an hingga mereka dapat membacanya dengan lancar karena ketika orang islam tidak bisa membaca Al-Qur’an maka akan terlihat lucu.

Walaupun nanti outputnya ada yang menolak dan menerima itu adalah sunatullah, itu adalah urusan mereka. Yang penting kita berharap Al-Qur’an ini dapat kita dekatkan dengan adik-adik dan mereka bisa membacanya dan semoga semuanya lancar. Karena memang orang islam akan lucu ketika tidak bisa membaca Al-Qur’an,” tutupnya. (khairul)

Oleh : Khairul Syafuddin

Aktifitas mahasiswa dalam perkuliahan tentu tidak akan pernah lepas dari peran buku sebagai sumber pengetahuan. Demi medukung hal tersebut, setiap universitas pasti memiliki perpustakaan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar yang ada di kampus. Begitu juga Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang setiap tahun menggelar kegiatan user education dalam rangka pengenalan pelayanan di perpustakaan.

User education ini memang diperuntukkan bagi mahasiswa baru 2017/2018, namun bagi angkatan atas yang belum memiliki kartu perpus juga diperbolehkan untuk mengikutinya. Kegiatan yang berlangsung di Perpustakaan UMS kampus 2 ini direncanakan hanya berlangsung selama 20 hari, Senin-Sabtu (11-30/9). Meski kegiatan ini sudah berlangsung selama 1 minggu, namun para peserta yang telah mengikuti user education telah mencapai sekitar 2000 mahasiswa hingga saat ini, Senin (18/9).

Ken Retno Yuniwati selaku Ketua Penyelenggara User Education menjelaskan bahwa tujuan utama penyelenggaraan user education ini mengenalkan perpustakaan kepada mahasiswa mulai dari fasilitas yang dimilikinya hingga bagaimana cara memanfaatkannya.

“Tujuan utama user education ini mengenalkan perpustakaan kepada mahasiswa. Jadi pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang sudah disediakan perpus, kemudian memanfaatkan seperti koleksi e-journal itu kan perlu keterampilan khusus juga. Itu perlu diperkenalkan ketika mahasiswa itu diajari. Sehingga setelah mengikuti user education mahasiswa tidak akan gagap saat di perpustakaan,” jelasnya.

Dalam kegiatan ini, pihak perpustakaan mencoba memberikan bekal kepada para mahasiswa tentang bagaimana mencari buku yang ada di rak. Selain itu mereka juga diberikan pengetahuan juga dalam mencari jurnal di perpustakaan. Bahkan dalam kesempatan ini perpustakaan juga mengenalkan fasilitas-fasilitas unggulan yang ada diperpustakaan seperti aplikasi android perpustakaan UMS.

Dia juga menambahkan bahwa dari pengalaman ketika dirinya mengisi user education, mahasiswa yang mengikuti kegiatan ini terlihat cukup antusias. “Pengalaman saya ketika mengisi di tiga kelas itu, mereka cukup antusias. Terbukti mereka nggak ada yang ngantuk,” tambahnya.

Dhina Pratiwi Rachmawati salah satu mahasiswa baru Program Studi Ilmu Komunikasi UMS yang telah mengikuti user education mengungkapkan bahwa penyelenggaraan kegiatan ini cukup bermanfaat, karena dengan mengetahui bagaimana pelayanan di perpustakaan mahasiswa juga dapat memanfaatkannya secara maksimal, contohnya melalui fasilitas SMS Gateway.

“Yang aku rasain itu cukup bermanfaat, karena terbukti seharusnya hari ini kan aku ke perpustakaan, tapi berhalangan untuk kesana. Kemudian aku pinjam buku lewat SMS Gateway itu kan bisa terus besok langsung ku ambil. Jadi kita nggak harus datang ke perpustakaan karena bisa memanfaatkan fasilitasnya itu melalui SMS Gateway,” ungkapnya. (khairul)

Oleh : Khairul Syafuddin