KARTASURA – Kaum muda di Solo Raya digenjot untuk rajin menulis saat pelatihan yang diikuti 50 siswa SMPdan SMA, kemarin. Siswa diarahkan membuat produk seperti majalah dan buletin.

Koordinator acara, Rani Arbaati, menjelaskan, acara yang digelar oleh tim Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) UMS dan Komunitas Cita Rasa Kebaikan Pelajar Indonesia (Cakep) itu diharapkan bisa memunculkan kaum muda yang kreatif.

Selama dalam pelatihan dari pukul 08.00-14.00, siswa dari berbagai sekolah di Solo Raya mendapatkan teknik-teknik dasar dalam bidang jurnalistik dan ilmu menulis untuk umum. ”Memang harus digenjot agar mulai dan rajin menulis,”katanya di Kecamatan Kartasura.

Dikatakan, tidak hanya memberikan teknik-teknik dasar dalam pelatihan. Pihaknya juga terus melakukan pendampingan terhadap siswa di sejumlah sekolah di Kota Makmur dan Kota Bengawan untuk menelorkan produk tulisan seperti membuat majalah sekolah dan itu sudah dilakukan di SMP Muhammadiyah Program Khusus di Kecamatan Kartasura.

Berani

”Pendampingan memang menjadi hal yang harus dilakukan. Karena siswa yang baru bisa dan gemar menulis pasti membutuhkan arahan,”kata dia.

Pemateri yang juga dosen FKI UMS, Agus Triyono, menerangkan, kaum muda memang harus didorong dalam mengembangkan minat dan bakat, khususnya dalam bidang menulis.

Bersama mahasiswa, pihaknya melakukan pengabdian terhadap masyarakat, antara lain mendampingi siswa dari berbagai sekolah dalam menelorkan produk seperti majalah.

”Kami dorong kaum muda jangan hanya rajin menulis status di media sosial. Tapi berani menuliskannya lewat tulisan di dalam majalah, buletin, atau artikel. Seperti siswa SMP Muhammadiyah di Kartasura yang sudah menerbitkan majalah,”katanya.

Salah satu peserta, Brilliani Nadiva, mengapresiasi dengan pelatihan menulis itu. Dia sejak usia dini terbiasa menuliskan gagasan dalam bentuk tulisan. (H80-85)

Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi Dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) terbilang sebagai salah satu Prodi yang masih muda. Resmi bergulir sejak tahun 2006 silam, kini Prodi Ilmu Komunikasi menjadi salah satu jurusan yang diminati calon mahasiswa UMS. Di balik berdirinya Prodi Ilmu Komunikasi, sosok Drs. Joko Sutarso, SE, M.Si, menjadi salah satu pencetus kelahiran Prodi tersebut.

Sosok kelahiran Karanganyar, 1 Juni 1964 tersebut bersama Ahmad Muhibin dan Nur Hadiyantomo menginisiasi embrio Prodi Ilmu Komunikasi. Usai mengurus berbagai macam perijinan, 28 Juni 2006 secara resmi Surat Keputusan (SK) pendirian Prodi baru turun. “Sudah 21 tahun lamanya saya bekerja di UMS. Usai sekolah S-2 pada tahun 2003 dan lulus di 2005, saya sudah berorientasi untuk mendirikan Prodi Ilmu Komunikasi ini,” ungkap Joko ketika ditemui Joglosemar, Kamis (3/4).

Untuk mendirikan Prodi Ilmu Komunikasi UMS, Joko mengaku berjuang dengan mencari link, hingga membandingkan Prodi serupa di kampus lain, khususnya di Jawa Tengah dan Indonesia secara umumnya. Ia pun mempelajari keunggulan serta kelemahan Prodi di kampus lain, sehingga kini menjadi salah satu program yang khas dan laku di pasaran. “Salah satu kebutuhan UMS yang dianggap penting yaitu untuk meningkatkan citra dan pentingnya media relations. Itu yang kemudian menjadi alasan kami untuk mengembangkan Prodi Ilmu Komunikasi terutama di kalangan Muhammadiyah,” ujar Joko yang kemudian turut membantu berdirinya FKI UMS tersebut.

Tahun 2007, terdapat momentum dimana Prodi Ilmu Komunikasi diperkuat dengan Prodi Teknik Informatika. Menurut Joko, hal tersebut kian memperkokoh kekuatan fakultas dimana Prodi yang dikembangkan khususnya di Ilmu Komunikasi sarat dengan muatan informatika. “Sinergi keduanya dapat mencapai bentuk yang mapan,” sebutnya.

Perkembangannya Prodi Ilmu Komunikasi terbilang mantap. Indikatornya, dengan pengakuan akreditasi B yang kini disandang, lulusan yang diterima di berbagai lapangan kerja, berikut termasuk jumlah peminat yang masuk. Kini, kuota penerimaan mahasiswa baru pun sengaja dibatasi dan disaring lewat passing grade guna menjamin mutu.

“Saya pribadi berharap Ilmu Komunikasi bisa semakin besar, kualitas dosen meningkat, dan dapat diterima oleh masyarakat. Terlebih ini sebagai bagian dari sumbangsih kami terhadap Muhammadiyah dan masyarakat pada umumnya,” tandas Dosen Komunikasi Politik dan Komunikasi Pembangunan tersebut.

Di luar aktivitasnya sebagai dosen yang mengajar dan melakukan penelitian serta pengabdian tersebut, rupanya juga menggemari seni tarik suara. “Bagi saya bekerja itu bagai ibadah. Di luar aktivitas kampus, saya suka menyanyi dan membaca. Sebab dari situlah saya mendapatkan pengetahuan dan pengalaman baru,” tutup Joko. Putradi Pamungkas

UMS-Jika tak ada peradaban besar yang dibangun tanpa aksara dan sejarahnya, maka di dalam dunia film tidak ada film yang dibuat tanpa skenarionya. Skenario adalah suatu hal yang mutlak bagi sebuah produksi film, oleh sebab itu dia harus ada. Hal itu seperti disampaikan Azwar Sutan Malaka di hadapan seratusan peserta Workshop Penulisan Skenario yang diadakan di Fakultas Komunikasi dan Informatika, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) pada hari Sabtu tanggal 2 Mei 2015.

Pada acara yang diadakan di Gedung Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMS itu, Azwar yang juga merupakan penulis skenario ini menyampaikan, bahwa scenario pada dasarnya adalah cetak biru (blue print) dari sebuah produksi film. Karena skenario adalah panduan bagi banyak orang yang terlibat dalam produksi film, maka cara penulisan skenario pun bersifat teknis dan mendetail.

“Hal ini tentu berbeda dengan penulisan bentuk fiksi lainnya seperti novel dan cerpen karena pada dasarnya skenario film tidak akan dibaca oleh pihak external seperti novel dan cerpen tersebut,” jelas Azwar yang juga Alumni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas itu.

Lebih jauh penulis muda yang menjadi juara pertama Lomba Penulisan Skenario Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014 yang lalu itu juga menyampaikan bahwa, skenario yang baik memberi peluang yang sangat besar untuk menciptakan film bermutu. Sementara itu skenario yang jelek sudah pasti tidak akan bisa menghasilkan film yang bermutu.

“Oleh sebab itu skenario harus dirancang dengan sangat matang, membutuhkan kerja keras dengan tidak hanya duduk menunggu inspirasi di depan layar komputer, akan tetapi sebagai penulis skenario kita juga harus melakukan riset-riset, baik riset lapangan ataupun riset kepustakaan,” jelas Azwar dihadapan ratusan mahasiswa UMS tersebut.

Sementara itu Wakil Dekan Bidang Kerjasama Fakultas Komunikasi dan Informatika, UMS, menyampaikan bahwa keterampilan menulis skenario bagi mahasiswa komunikasi adalah suatu hal yang sangat penting sebagai bekal untuk menempuh dunia kerja di masa mendatang. “Untuk memasuki industri kreatif mahasiswa harus dibekali berbagai keterampilan, salah satunya adalah keterampilan menulis skenario ini,” jelasnya.

Wakil Dekan Bidang Kerjasama Fakultas Komunikasi dan Informatika, UMS tersebut juga menyampaikan bahwa ke depan dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dalam dunia kerja mahasiswa Indonesia tidak hanya bersaing dengan sesama orang Indonesia, tetapi juga akan bersaing dengan lulusan perguruan tinggi di ASEAN.

Surakarta, 5 Mei 2015 – Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta mempunyai program pengabdian masyarakat. Salah satu program pengabdian masyarakat yang dilakukan adalah pengabdian masyarakat mengenai pelatihan fotografi di SMA N 7 Surakarta yang bekerjasama dengan salah satu unit kegiatan mahasiswa yang bergerak dalam bidang fotografi yang ada di Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS yaitu FINIC (Fotografi Komunikasi dan Informatika Club). Dalam workshop ini di ikuti 39 siswa. Pelatihan ini di maksudkan untuk memberikan ilmu mengenai fotografi. SMAN 7 Surakarta terdapat ekstrakulikuler fotografi, adanya pelatihan ini dianggap dapat menambah ilmu mengenai fotografi. Karena ilmu fotografi di ekskul tersebut belum terlalu mendalam sehingga dengan adanya pelatihan ini, mendapat sambutan yang sangat baik dari pihak sekolah, terutama dari para siswa yang mengikuti ekskul tersebut.

Materi fotografi di berikan oleh Ali Luthfi, selaku salah satu tim fotografiyang disiapkan oleh FINIC. Materi yang diberikan antara lain mengenai penentuan komposisi, iso, diafragma, sutter speed dan ilmu dasar-dasar fotografi lainnya.

Setelah mendapatkan materi tersebut, para peserta workshop diberikan waktu untuk menerapkan materi yang sudah di berikan selama 1 jam. Dengan di dampingi dari anggota FINIC yang di tunjuk sebagai pendamping pelatihan fotografi. Di bentuk menjadi beberapa kelompok, satu kelompok berisi 7-9 orang yang di dampingi oleh 2 orang pendamping. Lalu per kelompok di sebar di area sekolahan untuk hunting foto.

Setelah hunting, foto yang mereka hasilkan di kumpulkan lalu di kurasi. Kurasi adalah penilaian foto berdasarkan kualitas yang dihasilkan sesuai dengan tema, terkumpul 39 foto dari para peserta workshop. Setelah kurasi dipilih 1 foto sebagai pemenang pelatihan workshop.

Diharapkan dengan adanya workshop ini mampu menarik minat para peserta untuk memotret dengan baik. Selain itu acara ini diharapkan dapat meningkatkan minat peserta workshop untuk melanjutkan pendidikannya di UMS, terutama di progdi Ilmu Komunikasi.