Penganugerahan Film Kategori Best of The Best pada Comfi-Fest (24/12).

Comfi-Fest atau Communication Film Festival merupakan ajang pemutaran sekaligus apresiasi film karya mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi UMS. Acara tahunan yang diselenggarakan pada 23 hingga 24 Desember 2019 lalu di Auditorium Mohammad Djazman UMS ini dibuka untuk umum dan berhasil menarik puluhan pengunjung.

Salah satu bentuk apresiasi yaitu adanya penghargaan berbagai kategori yang relevan dengan mata kuliah Sinematogari II diantaranya film terbaik, editing terbaik dan sutradara terbaik. Pada tahun ini, Comfi-Fest mengundang tiga juri dari praktisi yaitu sineas Tonny Trimarsanto, Deri Prananda dan Yudi Leo. Ketiganya menilai 24 film karya mahasiswa kemudian menentukan film terbaik sesuai dengan kategorinya.

Acara Comfi-Fest kali ini mengangkat tema “Titik Awal” dengan tagline “Titik Awal Membangun Cerita”. Sebanyak 24 film karya mahasiswa akan ditayangkan dalam acara Comfi-Fest (Communication Film Festival). Film pendek yang dibuat oleh mahasiswa angkatan 2017 ini menyiratkan berbagai pesan moral dari berbagai tema seperti keluarga, hingga toleransi umat beragama.

Foto bersama panitia dan dosen pengampu SInematografi II, Iswahyudi Tedjoyuwono setelah berakhirnya Comfi-Fest (24/12)

Awalnya, Comfi-Fest menggunakan nama Communication Visual Art atau CIVA yang merupakan tugas akhir dari mata kuliah Sinematografi II. “Perubahan nama ini sebenarnya untuk memacu agar mahasiswa mampu berkarya, bukan hanya di dalam kampus sebagai tugas mata kuliah saja namun di luar kampus juga,” kata dosen pengampu Sinematografi II, Iswahyudi Tedjoyuwono. Harapannya, setelah festival ini mahasiswa terus berkarya dan mampu menggali potensi di bidang perfilman.

Ketua panitia sekaligus mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi angakatan 2017 Gandhung Suryo Sumirat mengatakan, kehadiran Comfi-Fest dapat menginspirasi mahasiswa. “Kita nggak cuma tahu konsep, tapi langsung praktik membuat film juga belajar berkompetisi,” ujarnya. Ia berharap acara tahunan ini semakin berkembang di kemudian hari dan mampu menjadi gerbang awal mahasiswa komunikasi untuk terus berkarya. (Ari Kurniawan)

SURAKARTA – Pelaksanaan pameran besar finic 6 berjalan lancar dengan dihadiri ratusan pengunjung. Pameran yang berlansung pada 30-1 Desember 2019 berlokasi di Lokananta ini, bertajuk frosa kata (fotografi olah rasa) mengusung konsep dari bahasa perancis “Art De Moi” yang bermakna “art of me”. Pameran ini diikuti oleh 18 pameris dengan menampilkan beragam genre.

Pameran besar finic kali ini berbeda dengan pameran besar pada tahun sebelumnya. Menurut Nukyfera selaku ketua panitia menyatakan jika pameran ini spesial karena mendatangkan pemateri yang spesial pula. “Pak Don Hasman yang menjadi pembicara memiliki banyak prestasi, salah satunya adalah menjadi satu dari 100 fotografer terkenal di dunia” ujar Nukyfera saat diwawancara di lokasi.

Don Hasman sebagai fotografer senior di Indonesia menjadi pemateri yang dapat menginspirasi anggota Finic dan peserta pameran untuk terus berkarya. Menurut Wibowo Rahardjo selaku kurator finic, pesan untuk pameran berikutnya untuk memperluas pergaulan. Karena dengan bertemu orang lain yang baru, kita dapat bertukar pikiran dan memperluas wawasan. “Jangan hanya di dalam kandang, yuk kita bersosialisasi, yuk kita menambah teman. Dan dari sanalah kita dapat berkembang” ujarnya. (Aditya)

Seminar bertajuk “Cerdas Memilih Konten Video Games” diselenggarakan oleh Prodi Ilmu Komunikasi bersama HIMAKOM Rabu (16/10/19) di ruang BPH lantai enam gedung Siti Walidah. Seminar ini diikuti oleh 122 mahasiswa baik dari Prodi Ilmu Komunikasi mau pun program studi lainnya.
Seminar ini dibuka langsung oleh Nurgiyatna S.Ti, selaku dekan FKI dan langsung dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Luat Sihombing selaku Kasubdit Pengembangan Ekosistem Ekonomi Digital KEMKOMINFO, Khemal Andrias dari NXG Indonesia, serta Sidiq Setyawan M.I.Kom sebagai dosen Ilmu Komunikasi UMS.
Seminar ini sendiri membahas tentang ajakan untuk memilah konten video games yang sesuai dengan rating sehinggga sesuai dengan usia pemain serta untuk berfikir kritis tentang ideologi dan pesan tersirat yang termuat dalam video games.
Luat memaparkan, “jumlah gamer di Indonesia tidak kurang dari 60.000 jiwa pada 2017 dan akan berkembang hingga 100.000 jiwa pada 2020 nanti”. Oleh karenanya Luat menekankan rating tersebut penting untuk memandu pemain memilih konten yang sesuai dengannya. (Hendra)

Solo – Selasa (23/4) Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah dalam pelaksanaan Rpat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pendidikan Ilmu Komunikasi (APIK) Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Rakernas yang diikuti oleh lebih dari 30 peserta ini dibarengi juga dengan workshop pengisian borang akreditasi 4.0 yang dibimbing oleh Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc dari Majelis Dikti Litbang PP Muhammadiyah. 

Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si mengatakan, rakernas ini merupakan forum yang strategis untuk menjalin silaturahmi dankomunikasi intensif antar PTM se-Indonesia. Senada dengan itu, Dekan Fakultas Komunikasi dan Informatika UMS, Nurgiyatna, PhD berharap melalui forum ini dapat terbangun potensi kerjasama yang berkelanjutan antar PTM. 

Sementara itu, Dr. Dian Purworini, MM, Kepala Prodi Ilmu Komunikasi UMS mengungkapkan, adanya APIK ini akan semakin mengeratkan komunikasi antar tenaga pendidik di lingkungan PTM. Nantinya diharapkan mereka dapat saling sinergi menyikapi berbagai perkembangan ilmu komunikasi. “Kita akan membahas berbagai kegiatan APIK PTM selama satu tahun ke depan,“ jelasnya.