Peningkatan kualitas guru menjadi salah satu aspek yang sangat diperhatikan oleh Muhammadiyah. Pentingnya peningkatan kualitas tersebut mendorong Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat (MPDM PP) Muhammadiyah melalui Forum Guru Muhammadiyah (FGM) menggelar acara Rembug Nasional (Rembugnas).

Acara yang dibuka di Auditorium Djasman Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) akan dilaksanakan selama 3 hari, Jumat – Minggu (9-11/11/2018). Peserta dari kegiatan tersebut berasal dari perwakilan Guru Muhammadiyah yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Terhitung, untuk jumlah pesrta yang mengikuti Rembugnas FGM ini seitar 483 peserta.

Ketua FGM, H. Pahri, S.Ag., MM menjelaskan bahwa tujuan dari penyelenggaraan kegiatan ini agar nantinya guru Muhammadiyah dapat menjadi guru yang unggul, mencerahkan, dan berkemajuan salah satunya dalam hal teknologi informasi.

“Jadi kita berharap dengan dilaksanakannya rembug nasional Forum Guru Muhammadiyah ini agar guru-guru Muhammadiyah menjadi guru yang unggul, guru yang berkemajuan, dan guru yang mencerahkan. Selain itu, kita berharap guru-guru Muhammadiyah itu juga senantiasa update terhadap perkembangan-perkembangan zaman terutama terhadap perkembangan teknologi informasi terkini. Agar guru-guru Muhammadiyah tidak tertinggal,” ungkapnya ketika diwawancarai.

Agar para guru dapat mencapai hal tersebut, maka mereka tidak hanya berfokus untuk meningkatkan pembelajarannya saja, namun juga mulai menanggalkan model pembelajaran yang lots, law, and height order thinking skill. Disamping itu guru-guru Muhammadiyah harus tetap semangat untuk menjadi yang terdepan dalam kemajuan pendidikan anak-anak bangsa Indonesia.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr. H. Haedar Nashir, M.Si menjelaskan bahwa melalui kegiatan seperti ini diharapkan para guru juga dapat saling membangun komunikasi. Hal ini untuk mendukung kualitas pendidikan yang ada di Indonesia. Sebab kualitas pendidikan di negara ini akan maju jika gurunya juga maju.

“Guru Muhammadiyah atau guru Indonesia secara keseluruhan itu akan bisa membangun komunikasi mengatasi kesulitan bersama serta maju bersama. Soal kualitas, jujur Indonesia itu maju jika gurunya maju. Jika gurunya sejahtera, dan gurunya betul-betul menjadi pendidik. Kalau kita ingin menjadi negara yang unggul itu memang harus dari guru,” jelasnya.

Sehingga Ketua Umum PP Muhammadiyah berharap dengan diselenggarakannya Rembugnas FGM ini dapat mempertemukan para guru di lingkungan Muhammadiyah untuk membangun jaringan. Selain itu, dari sisi kualitas guru juga dapat mengalami proses peningkatan yang signifikan. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kini memperingati harijadi nya yang ke-60. Salah satu yang menjadi acara puncak harijadi ini adalah dengan diselenggarakannya upacara, Sabtu (27/10/2018). Dalam upacara harijadi yang digelar di Ruang Mohamad Djazman Kampus 1 ini, UMS mengambil tema “60 Tahun UMS untuk Negeri”.

Dalam kesempatan ini, Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si menyampaikan bahwa UMS kini menjadi Perguruan Tinggi (PT) yang semakin mendapat trust dan recognize. Sehingga nantinya dapat mewujudkan impiannya untuk mendapat predikat World Class University.

“UMS diharapkan menjadi PT yang semakin mendapat trust dan recognize baik nasional maupun dalam kancah internasional, sehingga sampai pada tahun 2029 nanti berdasarkan Renstra jangka panjang, UMS akan dapat mewujudkan impiannya untuk menjadi PT yang mendapat predikat sebagai World Class University,” jelanya.

Rektor UMS juga menambahkan bahwa salah satu bukti UMS semakin mendapat kepercayaan dari masyarakat luas dibuktikan dari jumlah animo mahasiswa yang mendaftar ke UMS. Pada tahun 2018, tercatat ada sebanyak 39.461 pendaftar, yang lulus test 12.094, dan yang registrasi sebanyak 9.137 mahasiswa. Sehingga peningkatan yang terjadi pada tahun ini sebesar 8,26%, termasuk mahasiswa asing dengan jumlah 145 orang.

Selain itu, Dr. Sofyan Anif, M.Si juga menyampaikan mengenai perolehan ranking dan penghargaan yang telah diraih oleh UMS saat ini. Dalam perengkingan tingkat nasional versi Kemenristekdikti, tahun ini UMS mengalami penigkatan menjadi ranking 33. Sedangkan perengkingan versi 4 International Colleges and Universities (4ICU) 2018 UMS menduduki peringkat ke 14. Kemudian berdasarkan World University Ranking (WUR) versi QS Asia, UMS berada di posisi 301 -350 dunia, dan urutan ke 12 terbaik skala nasional.

Prof. Intan Ahmad, Ph.D selaku Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristekdikti menyampaikan orasi ilmiah dengan tema Pendidikan Tinggi di Era Revolusi Industri 4.0. Dalam orasi ilmiahnya tersebut, Prof. Intan Ahmad, Ph.D mengungkapkan agar PT dapat survive di era revolusi industri 4.0 maka harus dapat memberikan pendidikan yang relevan.

“Kalau kita ingin survive, maka kita harus beradaptasi. Bukan yang paling pintar, yang paling kaya. Namun yang bisa beradaptasi. Hal ini bagaimana agar kita sukses. Kemudian jika diterapkan di ranah PT, agar kita survive maka kita harus memberikan pendidikan yang relevan,” ungkapnya.

Prof. Intan Ahmad, Ph.D juga menjelaskan agar sebuah PT dapat meningkatkan mutu pendidikannya maka mereka harus bekerja keras. Prof. Intan juga memberikan contoh berupa data statistik peningkatan mutu PT. Menurutnya hal itu dikarenakan adanya kerja keras dari PT yang bersangkutan. Bahkan dirinya juga memberikan apresiasi kepada UMS karena meski universitas swasta, namun dapat memperoleh prestasi yang membanggakan dan dapat bersaing dengan PTN.

Disamping itu, Prof. Intan menambahkan bahwa sebagai perguruan tinggi harus dapat menyiapkan mahasiswanya di dunia kerja. Persiapan tersebut bukan hanya mengenai IPK tertinggi atau jumlah lulusan terbaik, namun ada aspek penting yang diperlukan di dunia kerja.

“Diperlukan aspek lain seperti kemampuan berkomunikasi, bekerja keras, berpikir kritis, dan kepemimpinan. Hal ini perlu dilatih di luar kampus, sehingga kegiatan mahasiswa itu menjadi sangat penting. Hal ini dapat membantu mahasiswa menyiapkan keterampilanya, sehingga perlu disampaikan kepada mahasiswa di semester awal agar mereka dapat mulai berpikir sejak dini,” jelasnya.

Selain laporan Rektor UMS dan Orasi Ilmiah dari Kemenristekdikti, terdapat acara lain yang juga dilakukan dalam upacara ini. Acara tersebut yaitu pemberian penghargaan kepada dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa yang berprestasi di tahun 2018. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

Tim Mahasiswa Muslim Pecinta Alam Universitas Muhammadiyah Surakarta (Malimpa UMS) berhasil mencapai puncak tertinggi Mongolia. Tim yang tergabung dalam Malimpa UMS International Expedition (MUIE) 2018 mencapai Puncak Khuiten di ketinggian 4.374 mdpl pada Rabu (19/09/2018).

Mahasiswa yang berhasil mencapai puncak tertinggi pegunungan Mongolia tersebut adalah Iqbal Nurii Anam (mahasiswa Teknik Sipil UMS) dan Ajeng Nutri Hidayati (mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi). “Setelah sempat diterjang badai dan suhu ekstrim -21°C, kami akhirnya bisa mencapai puncak,” ungkap Iqbal Nuri lewat sambungan telekomunikasi, Minggu (23/9/2018).

Kedua mahasiswa UMS itu juga mengibarkan mengibarkan bendera Indonesia serta bendera UMS di Puncak Khuiten 4.374 mdpl, TN Altai Tavan Bogd, Mongolia. Iqbal mengatakan bahwa Potanin glacier menjadi saksi bisu atas perjuangan mereka.

Potanin glacier sepanjang 14 kilometer menjadi saksi bisu perjuangan penjelajah kami. Ini membanggakan karena kami adalah pendaki pertama dari Indonesia yang menapakkan kakinya di puncak tertinggi Mongolia,” tambahnya.

Dia juga menjelaskan bahwa pendakian ini tak lepas dari berbagai kendala, salah satunya Ajeng Nutrii sempat mengalami gejala Frostbite atau radang dingin. Kondisi itu ketika jaringan tubuh membeku dan rusak oleh paparan suhu rendah pada jari kelingking dan jari manisnya.

Sekembalinya dari gunung, tim Malimpa UMS International Expedition (MUIE) melanjutkan kegiatan riset khazanah Islam di Suku Kazakh Nomads selama beberapa hari ke depan sampai kembali pulang ke Indonesia pada Kamis (27/9/2018) mendatang.

              Selain itu, Ajeng juga mengaku bersyukur mendapat kesempatan untuk menaklukkan puncak Khuiten Mongolia. Pengalaman mendaki Khuiten Peak akan menjadi pengalaman pertama kedua mahasiswa tersebut dalam mendaki gunung es. Untuk itu, mereka telah melakukan latihan untuk persiapan khusus selama beberapa bulan.

             Pertimbangan dipilihnya puncak tertinggi di Mongolia tersebut memiliki rute yang cukup sukar jika dibandingkan dengan puncak tertinggi yang lain. Hal ini tentu menjadi sebuah tantangan bagi mereka sekaligus kebanggaan karena telah berhasil menyelesaikan misi pendakian tersebut.

 Ekspedisi ini juga mengemban misi melakukan riset menguak khazanah peradaban Islam di Mongolia, yakni suku Khazak Nomad yang tinggal di kaki pegunungan Altai Tavan Bogd Mongolia. Ajeng menambahkan bahwa dalam penelusuran mereka, suku tersebut hidup secara nomaden. Hal ini dirasa menarik bagi mereka sehingga mereka tertarik melakukan riset terkait suku tersebut. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin

Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar kuliah umum kewirausahaan dan kebangsaan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan wawasan para mahasiswa dan pengembangan softskill mereka. Dalam kuliah umum kali ini, UMS mengambil tema ”Menumbuhkan Jiwa Wirausaha Pada Generasi Milenial”.

Kuliah umum tersebut dilaksanakan di GOR Kampus 2 UMS pada Sabtu (23/9/2018). Dalam kegiatan ini, UMS menghadirkan 2 narasumber yang sangat terkenal. Kedua narasumber tersebut yaitu Dr. (HC). H. Zulkifli Hasan selaku Ketua MPR RI dan H. Sandiaga Salahuddin Uno selaku Pengusaha Muslim Sukses.

Dalam kesempatan tersebut Rektor UMS, Dr. Sofyan Anif, M.Si mengenalkan kepada para narsumber mengenai prestasi yang telah diraih oleh UMS. Selain itu, dia juga menjelaskan bahwa kuliah umum tersebut merupakan salah satu bagian dari pengembangan softskill mahasiswa. Apalagi UMS sebagai kampus swasta terbaik di Indonesia memiliki mata kuliah softskill yang wajib diikuti seluruh mahasiswa.

Sesaat sebelum memasuki materi, Sandiaga Salahuddin Uno yang akrab dipanggil Bang Sandi langsung mengatur tempat duduk audiens menjadi lebih santai. Hal tersebut terlihat kondisi para peserta ketika duduk tidak hanya berada di depan panggung seperti kelas klasikal. Namun ada pula peserta yang duduk di atas panggung.

Dalam materi kewirausahaan ini, Bang Sandi menjelaskan bahwa entrepreneurship bukanlah sebuah pekerjaan, akan tetapi pola pikir (mindset). Cara untuk berhasil menanamkan pola pikir tersebut menurutnya adalah dengan menanamkan pola pikir tersebut sejak dini kepada generasi muda.

“Entrepreuneurship itu adalah pola pikir. Kunci keberhasilannya adalah dengan membangun SDM-nya. Caranya yaitu dengan tanamkan virus-virus entrepreneurship di setiap universitas-universitas sedini mungkin, sehingga para mahasiswa berpikir positif,” ungkapnya.

Selanjutnya, Bang Sandi juga memberikan tips kepada para peserta kuliah umum untuk menjadi pengusaha sukses. Dia membuat rumus suksesnya tersebut menjadi 4 AS, yaitu (1) kerja keras, (2) kerja cerdas, (3) kerja tuntas, dan (4) kerja iklhas.

Tak hanya itu, dia juga sempat mengatakan bahwa dirinya juga memiliki sebuah program OK OCE. Program tersebut merupakan gerakan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi informasi untuk menciptakan lapangan kerja baru berbasis kewirausahaan di Indonesia. Bahkan dia juga mengatakan bahwa dirinya berencana menjalin kerjasama dengan UMS untuk terlaksananya program tersebut.

Selain itu, berkenaan dengan wawasan kebangsaan, materi tersebut disampaikan oleh Zulkifli Hasan. Dia mengatakan bahwa sekarang Indonesia telah memasuki tahun politik. Dalam fase seperti ini menurutnya mahasiswa memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan arah Indonesia ke depan.

“Mahasiswa punya peran penting sebagai agen perubahan. Sehingga disini mahasiswa memiliki hak untuk menentukan arah Indonesia akan seperti apa besok. Apakah akan seperti hari ini ataukah aka nada perubahan. Itu kuncinya ada di mahasiswa besok,” ungkapnya. (Khairul)

Oleh: Khairul Syafuddin