UMS-Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi mengadakan audiensi informasi akademik bagi mahasiswa baru (Maba) angkatan 2015 pada Rabu (4/11/2015). Bertempat di gedung J Seminar kampus dua, acara ini dimaksudkan untuk memberikan informasi kepada Maba ilmu komunikasi perihal perkuliahan.

Acara yang dimulai pukul 09.00 – 12.00 WIB dibuka oleh moderator yang juga salah satu dosen Ilmu Komunikasi Danar Kristyana Dewi. Dalam audiensi pihak Prodi juga menyampaikan beberapa agenda untuk mahasiswa yaitu perkenalan dosen tetap, kurikulum perkuliahan, magang, skripsi dan laboratorium Ilmu Komunikasi .

Ketua Prodi (Kaprodi) Ilmu Komunikasi, Palupi membeberkan alasan waktu pelaksanaan audiensi tidak dilakukan pada awal perkuliahan. Alasan kesibukan mengurus akreditasi dan konversi kurikulum menjadi hambatan pihak pihak Prodi merealisasikan audiensi pada awal perkuliahan. “Jika tidak diurus nanti bisa terkena sanksi, dan juga taggalnya tidak pas untuk mengadakan acara audiensi,” terangnya setelah membawakan materi audiensi, Rabu (4/11/2015)

Salah seorang peserta audiensi, Dena Wahyu Widjanarko menuturkan keuntungan diselenggarakan audiensi kala dirinya masih semester satu. “Sangat bagus kita masih semester satu, jadi masih butuh banyak pengetahuan dan masih butuh banyak petunjuk. Juga acara ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru seperti kami. Terutama juga pemahaman buat sks dan pengambilan skripsi,” katanya Rabu (4/11/2015)

Solo—Pertengahan Oktober 2015 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merayakan Dies Natalis yang ke 57. Sejumlah tokoh Muhamadiyah menghadiri Miladnya universitas yang didirikan oleh 4 tokoh Muhammadiyah yang salah satunya adalah ibunda tokoh reformasi Amin Rais ibu Sudalmiyah Suhud Rais. Upacara Dies Natalis itu di isi orasi Kebangsaan oleh Ketua MPR, Dr (Hc) H Zulkifli Hasan SE MM. Dalam Dies Natalis ke 57, UMS memberi penghargaan kepada sejumlah tokoh yang berjasa dalam memajukan UMS diantaranya ibu Sudalmiyah Suhud Rais dan Malik Fajar yang pernah menjadi rektor selama 3 tahun (1993-1996).

Tahun ini UMS masuk 10 besar PTS terbaik seluruh Indonesia dan mendapat beberapa penghargaan internasional. Dalam pidatonya Rektor UMS, Prof Bambang Setiaji mengucapkan syukur UMS mampu berdiri dan berkembang hingga saat ini dengan jumlah mahasiswa yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Saat ini mahasiswa UMS berjumlah 28.000 dengan jumlah dosesn 550.

Bambang mengaku sedang bingung karena adanya kebijakan pemerintah dalam hal ini Menrisek Dikti yang mendorong agar PTS mengangkat dosen tetap sampai dengan ratio rata-rata 1 ; 30.
Kalau megikut itu, menurut Bambang, diperlukan 2 kali jumlah dosen. Dan ini justru akan mematikan Universitas. ”Dari pengalaman UMS, sekitar 80-90 persen anggaran akan terserap hanya untuk gaji. Dan ini justru akan mematikan PTS,”katanya.

Menurut Bambang, sejak didirikan UMS memakai sistem dosen tidak tetap dengan komposisi 30 tetap dan 70 tidak tetap. Namun UMS kini antara dosen tetap dan tidak tetap 50 : 50. Menurut Bambang pemerintah tidak perlu risau dengan dosen tidak tetap. ”Yang penting PTS bertanggungjawab terhadap sejumlah tatap muka, tidak membiarkan klas-klas kosong,”katanya. Malah, lanjut Bambang, sistem dosen tidak tetap merupakan sistem yang unggul untuk pembelajaran S1, karena memadukan antara teoritisi dan para praktisi diberbagai industri yang mengalam dalam aplikasi dan short cut teori dilapangan.

Menurut Bambang, dosen tidak tetap yang benar-benar dari industri adalah pintu gerbang integrasi dialogis universitas dan industri yang menjadi cita-cia sangat lama.
Sebaliknya sistem dosen tetap, mengajarkan teori (hapalan) dari pengajar. ”Ini sistem kurang sesuai dengAn dikembangkan pada era dimana perguruan tinggi diharapkan memiliki peran yang lebih nyata dalam pengembangan bernagai insustri. Dan ekonomi.

”Yang penting diawasi, bukan dari mana dosen itu bersal tetapi apakah mereka memiliki kualifkasi yang baik dan bwerfungsi sebagaimana mestinya. ”Katanya. (arya)

UMS-Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) akan menerbitkan buku yang bertemakan “Kritik Media” pada bulan November. Buku perdana yang akan diterbitkan ini berisi tentang kumpulan artikel yang dibuat guna meningkatkan minat menulis anggota Himakom.

Ketua Himakom, Muhammad Alan mengungkapkan bahwa buku yang dibuat oleh anak-anak Himakom tersebut gratis, tidak untuk diperjual belikan. Hal itu dikarenakan Himakom tidak berorientasi pada profit tetapi lebih pada karya. ”Kita nggak mikir pingin dijual, yang penting kita punya karya nyatanya. Tapi setelah itu, banyak peminatnya, kok malah minta untuk dijual, ya kita jual,“ ungkapnya, pada Rabu (30/9).

Alan juga menuturkan bahwa untuk pendanaan buku tersebut menggunakan kas Himakom, namun jika jumlahnya tidak mencukupi anak Himakon berencana untuk iuran. ”Uang kan bisa dicari tapi karya itu akan selamanya,”tambahnya. Dalam proses pembuatan buku tersebut juga mengalami banyak kendala, tetapi dengan niat yang mantap, kini sudah hampir rampung. Himakom sendiri juga menargetkan buku yang akan launching pada November tersebut berisi 6 sub bab yang diantaranya membahas tentang undang-undang penyiaran, iklan, generasi anak-anak zaman sekarang, dengan jumlah tiga puluh sampai lima puluh eksemplar.

Alan juga berharap dengan adanya buku tersebut, maka akan semakin meningkatkan minat menulis anggota Himakom selain sebagai kritik terhadap media. “Jadi, menurutku menulis itu landasan bagi temen –temen, itu skill (keahlian-red) utama untuk komunikasi terlepas itu juga sebagai kritik kita terhadap media,”harapnya.

Disisi lain, Seorang penulis dari buku tersebut, Zamratush Sholihah mengatakan bahwa buku perdana yang akan diterbitkan tersebut merupakan pengalaman baru bagi anak-anak Himakom. “Ini kan hal baru ya di Himakom, perdana bikin buku. Jadi menarik aja buat kita, ada sesuatu yang baru,”ungkapnya via LINE, pada Jumat (3/10).

Solo — Rektor Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Prof Dr Bambang Setiaji mengungkapkan, saat ini UMS memiliki dosen tetap sebanyak 550 orang, dengan total jumlah mahasiswa sekitar 27.500 orang.

“Dalam waktu dekat, kami bakal merekrut sebanyak 100 dosen,” jelas Rektor UMS, Prof Dr Bambang Setiaji kepada Timlo.net, di Kampus Internasional UMS, Solo, Minggu (4/10).

Menurut Rektor, pemerintah telah memberi kesempatan UMS untuk memenuhi kebutuhan dosen sebanyak 1.200 orang. Namun hingga saat ini, baru bisa memenuhi paling tidak sebanyak 650 orang. Sisanya, UMS mengandalkan dosen tamu yang ahli dibidangnya.

Diakui, tantangan UMS ke depan adalah pemenuhan dosen tetap dan laboratorium. Padahal uang kuliah di UMS tergolong rendah, sehingga untuk memenuhi hal itu memang berat.

“Karena itu, pemerintah seyogyanya mau memahami persoalan itu, bahkan mau membantu terutama dalam hal pengadaan laboratorium,” ujarnya.

Soal dosen tetap, Rektor UMS mengakui selama ini mengandalkan dosen tamu secara parttime. Dosen tamu biasanya ahli di bidangnya, bahkan lebih pengalaman.