UMS-Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Ilkom) semester III adakan kampanye kebersihan untuk memenuhi tugas mata kuliah komunikasi lisan pada Sabtu (21/11) di Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Kampanye kebersihan ini merupakan hal baru dalam mata kuliah komunikasi lisan sebagai imbas dari penerapan kurikulum baru.

Ada beberapa tema yang digunakan dalam kampanye tersebut yaitu “Anti Litter” dan “Save Paper”. Sasaran audiensi terdiri dari mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) dari angkatan tahun 2013, 2014, 2015.

Seperti yang diungkapkan salah seorang mahasiswa Ilkom, Hafidh Rizky Pratama tujuan dari kampanye tersebut agar masyarakat FKI sadar tentang membuang sampah pada tempatnya. “Supaya masyarakat FKI sadar tentang kebersihan di lingkungan FKI tidak membuang puntung rokok dan sampah sembarangan”, ungkapnya, Kamis (26/11/2015).

Dukungan juga diungkapkan oleh Dekan FKI, Husni Thamrin, yang mengatakan sangat mendukung kegiatan tersebut karena sesuai dengan kaidah keislaman. Menurutnya, menjaga kebersihan adalah kewajiban seluruh elemen FKI, tidak melulu bergantung kepada cleaning service. Ia menganggap kegiatan tersebut cukup positif selama tetap berada pada koridor maupun visi misi FKI. “Apalagi berkaitan dengan kebersihan lingkungan kampus. Kemudian, kalau resources itu saya kira juga sesuai dengan visi misi kita, artinya saya melihat ini dari segi pandangan keislaman”, katanya Senin (23/11/2015)

UMS-Peserta diskusi sontak memberi tepuk tangan ketika pemutaran film “Di Balik Frekuensi” berakhir dan kian meriah saat seorang perempuan berbaju putih bercelana coklat menuju panggung. Ekspresi wajahnya tampak lebih riang menatap antusiasme ratusan peserta diskusi dibandingkan ketika ia dikisahkan di film ini. Ia adalah Luviana mantan wartawan Metro TV yang di PHK karena memperjuangkan kesejahteraan rekan kerjanya dan menolak politisasi di stasiun televisi berita pertama di Indonesia tersebut.

Gelombang frekuensi merupakan sumber daya alam milik negara yang jumlahnya terbatas. Frekuensi merupakan milik publik karena dibiayai oleh pajak, dan sifatnya terbatas. Salah satunya adalah frekuensi yang digunakan oleh media televisi. Namun sayangnya disamping terbatasnya frekuensi di industri media justru diperalat untuk kepentingan kelompok politik tertentu.

Berlatarbelakang kisah Luviana, film “Di Balik Frekuensi” mencoba menguak eksploitasi gelombang radio dan politisasi media televisi di Indonesia. Kisah Hari Suwandi, korban lumpur Lapindo, yang melakukan aksi jalan kaki dari Sidoarjo ke Jakarta juga menjadi pengantar bagaimana Metro TV danTV One membingkai berita demi kepentingan pemiliknya. Bahkan saat bersedia diwawancarai TV One tiba-tiba Heri Suwandi menangis dan meminta maaf pada Aburizal Bakrie. Hal tersebut mengejutkan dimana sebelumnya Heri Suwandi telah rela menempuh perjalanan panjang untuk memperjuangkan korban lumpur Lapindo dan selalu menolak diwawancari wartawan TV One. Pada akhir cerita dikisahkan setelah kejadian tersebut Heri Suwandi menghilang.

Keberpihakan media televisi sangat dirasakan masyarakat Indonesia. Hal tersebut terjadi pra pesta demokrasi dari tahun 2012 hingga saat Pemilu 2014 lalu. “Umumnya pelanggaran etika, 2000 aduan ke KPI, saat surat peringatan masuk runag redaksi hanya dibaca dan dibuang sampah, KPI dan Kominfo sebagai legulator seperti tumpang tindih,” ujarnya ketika menjawab pertanyaan dari peserta diskusi.

Film bergenre dokumenter tersebut merupakan garapan Ucu dan Ursula rekan Luviana pada tahun 2012 silam. Saat ditemui reporter pabelan-online.com sebelum naik panggung diskusi, Luviana mengungkapkan kegembiraannya film yang mengisahkan dirinya dapat ditampilkan di Solo. “Sangat seneng, ini ketiga kalinya ditampilkan di Solo, dan mungkin pemutaran ke seribu kalinya,” ujarnya.

Acara bedah film dan diskusi ini diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Komunikasi (Himakom) UMS. Ketua Himakom, Muhammad Alan, mengungkapkan bedah film dan diskusi dipilih Himakom karena masih anti mainstream oleh himpunan mahasiswa komunikasi di universitas lainnya. Film “Di Balik Frekuensi” dipilih karena masih banyak mahasiswa yang masih sempit perspektif tentang media khususnya televisi. “Kisah film ini mampu menyadarkan kita, bagaimana sebenarnya bekerja di media, jurnalis itu pengabdi masyarakat bukan mesin pemilik media,” tegasnya.

Acara tersebut juga menghadirkan aktifis peduli media Jogja Budhi Hermanto, dan Dosen Komunikasi UMS Fajar Junaedi sebagai moderator. Luviana menutup acara pada malam tersebut dengan nasehat kepada seluruh peserta diskusi. Luviana mengingatkan bahwa orang pintar harus masuk media dan membentuk gerakan besar untuk memperbaiki media di Indonesia. “Jangan larut, harus kritis,” tutupnya.

UMS-Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Himakom) kembali mengadakan study banding bertema “Himakom Mblayang Jatim”, pada Rabu sampai Sabtu (18 – 21/11/2015). Acara yang berlangsung selama empat hari tiga malam tersebut, diikuti oleh 45 peserta dari dalam maupun luar Himakom, ditambah satu dosen pendamping.

Ketua Himakom, Alan Putra Irawan mengatakan bahwa Himakom memiliki tiga sasaran tempat yang akan dikunjungi. Pertama yaitu PT. Amerta Indah Otsuka (Pocari Sweat Factory-red), kemudian mengunjungi SBO TV (Suroboyo TV-red) dan terakhir ke Himanika Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi (Hinamika) di Universitas Brawijaya Malang. “Disana kita bisa sharing dan diskusi tentang keorganisasian, atau mungkin juga kita akan dikasih tahu mengenai prodi di sana seperti apa fasilitasnya”, katanya, Senin (17/11/2015).

Alan juga menambahkan bahwa agenda study banding yang sengaja diadakan oleh Himakom bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang ranah kerja di lapangan., “Kebetulan di Komunikasi nggak ada kunjungan kayak KKN gitu. Jadi selain dapat teori di bangku kelas, kita kan juga harus tau kerja lapangan itu seperti apa dengan melihat langsung melalui kunjungan ke perusahaan-perusahaan media, perusahaan OTSUKA, sama ke UNBRAW”, tambahnya.

UMS-Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Komunikasi dan Informatika (BEM FKI) kembali mengadakan Pro Evolusion Soccer (PES) Competition, pada Sabtu (14/11/2015). Kegiatan tersebut diadakan untuk mengadu kemampuan, skill, kesabaran, strategi dan teknik peserta dalam sebuah permainan.

Gubernur BEM FKI, Sigid Rokhanudin mengatakan bahwa acara tersebut cukup menarik minat mahasiswa, hal tersebut terlihat dari banyaknya peserta yang berpartisipasi. ”Karena acara ini dibuka untuk mahasiswa umum UMS, jadi yang mendaftar bukan dari FKI saja tapi juga banyak dari fakultas lain yang ikut berpartisipasi,” katanya, Sabtu (14/11/2015).

Disisi lain, penanggung jawab PES Competition Muhammad Nur Hasyim, menuturkan bahwa kendala dalam acara tersebut adalah kesulitan dalam menyesuaikan waktu dengan jadwal main para peserta. “Beberapa ada yang tabrakan dengan jadwal kuliah dan praktek sehingga mereka minta pindah waktu, dan peserta daftar banyak yang ngeluh rata-rata pada bisa hari Sabtu”, tambahnya, Sabtu (14/11/2015).

Muhammad menambahkan bahwa untuk fasilitas sendiri dipakai dana dari pendaftaran peserta. “Kalau soal biaya sendiri, itu kita ambil dari pendaftaran peserta, lagi pula tidak membutuhkan banyak dana, hanya melengkapi fasilitas yang kurang, karena sebagian besar fasilitas dari anggota seperti laptop, stick dan lain sebagainya. Bagi pemenang mendapatkan uang dan piagam”, tambahnya.