SURAKARTA – Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Komunikasi dan Informatika (FKI) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Dasar Fotografi dan Fotografi Terapan” pada Kamis (18/12/2025). Berlokasi di Lantai 2 Neo Solo Grand Mall, kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa semester 3 dan 5 yang antusias mengikuti diskusi praktik serta simulasi peliputan.
Acara ini menghadirkan kolaborasi apik antara akademisi dan praktisi, yakni Dr. Andry Prasetyo, S.Sn., M.Sn. dan Alif Windhu Habiburrohman. Diskusi dipandu oleh Mulia Ramdhan Fauzani, S.I.Kom., M.Sc. selaku moderator, dengan tujuan membekali mahasiswa tentang pemahaman teknis sekaligus implementasi fotografi di dunia kerja.
Fotografi sebagai Media Informasi dan Advokasi
Dalam sesi pertama, ditekankan bahwa fotografi memiliki sifat idealistik yang mampu mengubah perspektif dan membangkitkan empati publik. Namun, sebuah foto yang kuat tetap memerlukan informasi yang jelas agar tidak menimbulkan ambiguitas. Penggunaan prinsip 5W+1H dalam sebuah karya visual dianggap krusial, terutama saat dipadukan dengan teks pendukung untuk menciptakan pesan yang lebih mendalam.
Alif Windhu Habiburrohman menjelaskan bahwa sejak tahun 2016, industri fotografi telah bertransformasi menjadi bidang dengan peluang kerja yang sangat luas. “Di era digital, fotografi bukan hanya hobi, melainkan instrumen promosi dan sumber pendapatan, baik melalui jasa profesional maupun kolaborasi endorsement di media sosial,” jelasnya.
Teknis Segitiga Eksposur dan Kejujuran Visual
Alif juga mengingatkan bahwa penguasaan Segitiga Eksposur adalah fondasi wajib bagi setiap fotografer. Pemahaman ini harus diterapkan di berbagai genre, mulai dari jurnalistik, portrait, hingga produk. Meski teknologi kamera kian canggih, observasi dan kejujuran visual tetap menjadi nilai utama agar sebuah foto memiliki bobot informasi.
Senada dengan hal tersebut, Dr. Andry Prasetyo menggarisbawahi peran fotografer dalam menyesuaikan karya dengan kebutuhan pasar. Namun, ia mengingatkan agar aspek etika tetap dijaga. “Fotografer profesional harus mampu menyeimbangkan permintaan klien dengan integritas visual,” tegasnya.
Melatih Kepekaan dan Batasan Editing
Antusiasme mahasiswa terlihat pada sesi tanya jawab. Peserta bernama Hanafi menanyakan cara efektif melatih kepekaan dalam menangkap momen. Menanggapi hal tersebut, Dr. Andry menjelaskan bahwa kepekaan lahir dari antusiasme dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sementara Alif Windhu menambahkan bahwa konsistensi dalam mengabadikan momen sehari-hari adalah kunci utama.
Terkait isu penyuntingan foto yang ditanyakan oleh Ni’am Tariq, narasumber sepakat bahwa editing diperbolehkan sejauh untuk memperkuat estetika tanpa menghilangkan kesan natural dan kejujuran dari objek asli tersebut.
Kegiatan ini diharapkan mampu mencetak calon komunikator visual yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki integritas dalam menyampaikan pesan melalui lensa kamera.

(Panitia Bingkre 2025)
