Sukoharjo – Wisuda merupakan momentum penting bagi para lulusan perguruan tinggi, yang dapat dimaknai sebagai akhir proses pembelajaran secara formal. Wisuda juga bisa diartikan sebagai pelepasan atas tugas-tugas akademik bagi peserta program pendidikan.

“Proses pendidikan yang telah ditempuh oleh para peserta program Diploma, Sarjana dan Magister di lingkungan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) tentu saja disertai berbagai pengalaman baik yang menyenangkan dan juga kurang menyenangkan,” ujar Rektor UMS, Prof Dr. Bambang Setiaji saat mewisuda 970 lulusan dalam acara Wisuda Program Diploma, S1 dan S2 UMS Periode II Tahun 2016, di Kampus UMS, Sabtu (4/6).

Disamping tuntutan sebagai mahasiswa, lanjut Bambang, adalah menyelesaikan segala tugas akademik di kampus, juga mempunyai kewajiban lain yaitu dalam profesi masing-masing.

Sementara itu, Wakil Rektor I bidang Akademik UMS Dr Muhammad Da’i, MSi.Apt dalam laporannya di depan wisudawan, mengungkapkan pada wisuda kali ini terdapat tiga wisudawan dari luar negeri. Masing-masing, Kholeeyoh asal Thailand, Ahmed Ali Ahmed Al-Shehabi asal Albaidha Yemen dan Nokthavivanh Sychandone asal Savannakhet Laos.

Diantara 970 wisudawan, terdapat 271 wisudawan yang lulus dengan predikat cumlaude. Masing-masing, 161 wisudawan FKIP, 37 wisudawan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 7 wisudawan Fakultas Hukum, 13 wisudawan Fakultas Teknik, 3 wisudawan Fakultas Geografi, 13 wisudawan Fakultas Agama Islam, 6 wisudawan Fakultas Ilmu Kesehatan, 1 wisudawan Fakultas Farmasi, 11 wisudawan Fakultas Komunikasi dan Teknik Informatika, dan 7 wisudawan sekolah Pascasarjana.

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN — Dr Heri Budianto terpilih sebagai ketua umum Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Pusat periode 2016-2019. Dekan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Mercu Buana Yogyakarta itu meraih suara terbanyak dalam pemilihan ketua umum pada Kongres Aspikom IV yang digelar di Medan, Sumatra Utara, Rabu (11/50 malam.

Direktur Polcomm Institute ini meraih 93 suara mengalahkan Dadang Rahmat Dekan Fikom Universitas Padjadjaran Bandung yang memperoleh 63 suara. Kongres Aspikom yang berlangsung pada 10-12 Mei itu dihadiri 150 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta seluruh Indonesia yang memiliki program studi Ilmu Komunikasi. Pelaksanaan kongres berjalan lancar,meski sempat beberapa kali di skors karena alotnya pembahasan tata tertib sidang maupun tata tertib calon ketua umum.

Heri mengajak semua program studi Ilmu Komunikasi untuk bersinergi bersama-sama membangun Aspikom yang lebih baik. “Program studi Ilmu Komunikasi seluruh Indonesia harus mampu menjawab tantangan persaingan global dan mampu melahirkan kurikulum pendidikan tinggi ilmu komunikasi yang mampu bersaing secara nasional dan internasional,” ujar dosen Universitas Mercu Buana Jakarta ini kepada Republika.co.id, Kamis (12/5).

Selain itu, Heri berharap sebagai institusi yang mencetak calon-calon sarjana dan pascasarjana D3, S1, S2, S3 di bidang Ilmu komunikasi, Aspikom mampu menghasilkan rumusan kurikulum yang mampu melahirkan lulusan yang menyediakan kebutuhan dunia industri khususnya industri komunikasi.

“Dengan kepengurusan baru ini juga diharapkan mampu menjadikan Ilmu Komunikasi menjadi ilmu yang dirasakan langsung manfaat dan keberadaanya di tengah masyarakat sehingga membawa kemajuan bangsa dan negara,” ungkap Heri.

SUKOHARJO – Dalam rangka menindaklanjuti anjangsana Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Muhammad Nuh ke Swedia, Februari lalu, Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar seminar internasional bertajuk “The First International Conference On Child-Friendly Education”. Seminar berlangsung di Gedung Moh Djazman, kemarin (11/5). Seminar ini merupakan bentuk keprihatinan terhadap situasi di negeri ini yang memiliki banyak catatan kelam tentang terabaikannya hak-hak anak dalam bidang pendidikan.

Ya, baru-baru ini masyarakat dikejutkan dengan kasus bocah Yuyun. Kendati memiliki regulasi yang jelas dan pelaksanaan yang sesuai prosedur, namun ternyata masih banyak kasus-kasus serupa Yuyun yang kurang mendapat perhatian.

“Di Bukittinggi, ada guru yang membiarkan muridnya berkelahi. Ada juga guru STM yang masih menerapkan hukuman tempeleng ke siswa. Terakhir, kasus Yuyun yang pulang sekolah ‘digarap’ 14 orang. Ini bukti bahwa hak-hak anak masih sering diabaikan,” jelas Humas UMS, Anam Sutopo kepada Radar Solo.

Seminar internasional ini diselenggarakan untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya memenuhi hak-hak anak terlebih di bidang pendidikan. Berkolaborasi dengan lima Negara dari tiga benua, yaitu Swedia, Indonesia, Vietnam, Srilanka, dan Namibia, seminar internasional ini berupaya merumuskan pola sistem pendidikan yang memberikan kontribusi konkrit tentang hak-hak anak di bidang pendidikan.

Kontribusi tersebut berupa implementasi sekolah dan pembelajaran yang ramah anak sebagai masukan pada pihak terkait. “Untuk memberikan wacana yang nyata tentang hak-hak anak di bidang pendidikan,” imbuh Anam.

Dengan seminar internasional ini, diharapkan kasus-kasus yang menyangkut anak dapat berkurang dan menurun secara signifikan. Selain itu juga hak-hak anak yang selama ini diabaikan semakin diperhatikan. (ser/aya/fer)

MEDAN – Pengurus Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi (Aspikom) Aceh periode 2016-2019 yang terpilih dalam rakorwil di Aula Harun Squere Hotel Lhokseumawe 19 Maret 2016 lalu, dilantik disela-sela kongres Nasional ASPIKOM yang berlangsung pada 10-12 Mei di Hotel Madani Medan itu dihadiri 150 Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta seluruh Indonesia yang memiliki program studi Ilmu Komunikasi.

Disela-sela kongres dan pelantikan, Kamaruddin Hasan, S.Sos., M.Si., sebagai ketua Aspikom Aceh periode 2016-2019, bersama dengan seluruh pengurus ASPIKOM Aceh, menyebutkan, Aspikom merupakan satu-satunya asosiasi yang menghimpun para pengelola pendidikan tinggi ilmu komunikasi baik di tingkat jurusan maupun program studi atau fakultas di seluruh Indonesia.

Kamaruddin, mengajak semua program studi Ilmu Komunikasi untuk bersinergi bersama-sama membangun Aspikom yang lebih baik. “Program studi Ilmu Komunikasi seluruh Indonesia harus mampu menjawab tantangan persaingan global dan mampu melahirkan kurikulum pendidikan tinggi ilmu komunikasi yang mampu bersaing secara nasional dan internasional,” ujar ketua prodi Ilmu Komunikasi fisip universitas Malikussaleh.

“Saat ini dan masa mendatang ilmu komunikasi masih menjadi pilihan favorit bagi calon-calon mahasiswa di Indonesia termasuk Aceh. Apalagi pendidikan ilmu komunikasi di Indonesia terus mengalami perkembangan yang pesat tentu ini memberi peluang besar sekaligus tantangan berat,” kata Kamaruddin.

Ia menyebut perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sebagai salah satu tantangan dan peluang. Termasuk integrasi kawasan dengan nama ASEAN Community pada 2015 lalu, Indonesia menghadapi babak baru pembangunan kawasan, yang akan mengarah pada setidaknya integrasi tiga pilar utama.

Yaitu, ASEAN Security Community (ASC), ASEAN Economic Community (AEC), dan Asean Socio-Cultural Community (ASCC). Selain itu, kamaruddin berharap sebagai institusi yang mencetak calon-calon sarjana dan pascasarjana, D3, S1, S2, S3 di bidang Ilmu komunikasi, Aspikom mampu menghasilkan rumusan kurikulum yang mampu melahirkan lulusan yang menyediakan kebutuhan dunia industri khususnya industri komunikasi.

Untuk itu, upaya penuh meningkatkan kapasitas sumber daya warga negara; mengingat bahwa saat ini kawasan ASEAN akan terintegrasi secara penuh dengan ekonomi politik global. Tentu diperlukan pengembangan, meningkatkan partisipasi, membangun jaringan aktif dalam memajukan keilmuan terutama Ilmu komunikasi di bumi Serambi Mekkah, baik sesama penyelenggara pendidikan maupun dengan Stakeholder.

Sebagai gambaran, ASPIKOM merupakan sebuah organisasi penghimpun perguruan tinggi khususnya Ilmu Komunikasi, mempunyai kualifikasi untuk menyusun konsep perjalanan kemandirian sarjana ilmu komunikasi, konsep yang disusun baik tentang kurikulum mata kuliah,, membina mahasiswa untuk mencapai Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), pengalaman kerja mahasiswa, dan hal-hal lain yang dianggap untuk meningkatkan Sumber Daya manusia (SDM) mahasiswa.

Seperti diketahui, visi ASPIKOM adalah terwujudnya kemitraan antar pengelola program studi yang professional dan bertanggungjawab dalam mencapai pendidikan Komunikasi di Indonesia yang berkualitas. Dengan misi untuk memetakan lembaga pendidikan tinggi ilmu Komunikasi Indonesia. Merumuskan standard kompetensi dosen, kurikulum inti, sarana dan prasarana di lembaga pendidikan tinggi ilmu Komunikasi. Membangun jaringan yang dinamis antar anggota untuk mendorong anggota memberikan kontribusi. Mendorong peningkatan kualitas pengajaran program studi ilmu Komunikasi. Mendorong peningkatan kompetensi dosen minimal sesuai standard kompetensi pada ilmu Komunikasi. Mendorong peningkatan kualitas standard pengelola penyelenggara pendidikan tinggi ilmu Komunikasi.

Termasuk, memberikan rekomendasi dalam mempengaruhi proses pengambilan keputusan dengan pemegang kebijakan pendidikan tinggi dalam hal pemberian ijin pendirian lembaga pendidikan tinggi Ilmu Komunikasi. Memanifestasi penyediaan literature, jurnal, hasil-hasil penelitian dan jaringan kerja sama dengan beberapa lembaga pendidikan tinggi ilmu Komunikasi.