Dengan mengangkat tema “Back To Indie“ Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Surakarta terkhusus mahasiswa yang mengambil mata kuliah sinematografi, atau yang tergabung dalam panitia penyelenggara Communication UMS Visual Art (CIVA) menggelar acara Short Movie Indie Festival 2015. Acara pemutaran dan screening film ini merupakan ajang kreasi dan apresiasi bagi mahasiswa jurusan ilmu komunikasi UMS sendiri. Kegiatan ini dimaksudkan agar mahasiswa dapat mengeksplorasi kreatifitasnya dalam mempraktekkan apa yang telah didapat saat dalam perkuliahan, khususnya ilmu dalam produksi sebuah film.

Acara ini diselenggarakan selama dua hari ini yaitu pada tanggal 21 – 22 Desember 2015 pukul 15.00 sampai 22.30 WIB bertempat di Gor Serbaguna UMS. Kegiatan tersebut menampilkan pemutaran 20 buah film karya mahasiswa – mahasiswa ilmu komunikasi UMS, dimana masing – masing film memiliki durasi kurang lebih 7 menit.

Pada hari pertama ada 4 segmen yang menayangkan 12 film dan hari ke dua 3 segmen menayangkan 8 film. Selain pemutaran film ada juga pembagian doorprize, acoustic band, penjualan merchandise dan awarding. Awarding sendiri adalah sebuah ajang apresiasi kepada PH (Production House) yang filmnya telah memenangkan nominasi dalam 12 kategori yang telah dipilih oleh juri. Dalam awarding ini juga di siarkan secara langsung oleh TV Muhammadiyah. Dengan adanya penghargaan yang diberikan, diharapkan dapat memotivasi bagi sineas–sineas muda agar dapat terus berkembang menciptakan karya yang luar biasa.

Acara berlangsung sukses dan meriah, bahkan kursi yang disediakan panitia tak cukup menampung banyaknya junlah penonton yang datang. Sehingga panitia harus menggelar tikar agar penonton yang masih datang dapat menikmati sajian karya oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS ini, film-film yang tampil mendapat seruan tepuak tangan dari ratusan penonton. Seusai acara, penonton masih ramai bercakap dengan para dosen maupun tamu undangan pada malam itu.

REPUBLIKA.CO.ID, LEEDS, UK | Muhammadiyah Inggris Raya ikut andil dalam menanggapi pandangan anti Islam dan Islamophobia di Eropa yang berkembang dalam beberapa waktu terakhir. Melalui pengurus baru Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Inggris Raya, Muhammadiyah akan bekerja sama dengan komunitas muslim Inggris lain.
Ketua Umum PCIM Inggris Raya yang baru terpilih, Zain Maulana mengatakan Islamophobia dan ide anti-Islam yang berkembang di Eropa saat ini, telah menjadi perhatian dunia internasional. Walaupun Inggris masih jauh lebih baik di bandingkan negara Eropa lainnya seperti Prancis dan Jerman, terkait ancaman Islamophobia.

“Kita akan ikut bersama komunitas muslim di sini terutama yang digawangi masjid-masjid yang ada di UK, yang juga sedang konsen terkait isu Islamophobia,” ujarnya dalam pernyataan tertulis kepada Republika.co.id, Ahad (20/12). Dia mengakui, aktivitas umat Islam di masjid-masjid Inggris masih relatif sama dan lebih baik.

Kerja sama antara organisasi keislaman dan masyarakat di Inggris juga masih mendapatkan tempat di masyarakat. Mahasiswa Doktoral Ilmu Politik dari Leeds University ini mengatakan, untuk Muhammadiyah melalui PCIM Inggris Raya, akan mempertegas dakwahnya dalam isu besar Islam berkemajuan.

“Kita juga akan membuat semacam simposium internasional dengan membahas isu tertentu misalnya tentang islam dan krisis kemanusiaan, atau membawa wacana tentang fikih air dan fikih kebencaan yg sedang digarap Muhammadiyah ke level internasional,” kata Dosen Hubungan Internasional Fisipol UMY ini.

Sebelumnya PCIM Inggris Raya baru menggelar Musyawarah Cabang Istimewa (Muscim) dan Silaturahim antara warga Muhammadiyah di Inggris Raya pada Sabtu (19/12). Agenda Muscim ini bertempat di Gedung Leeds University Union ini menjadi kegiatan rutin yang menunjukkan eksistensi salah satu organisasi Islam terbesar Indonesia di Inggris Raya.

Saat ini setidaknya ada lebih dari 50 orang warga dan simpatisan Muhammadiyah di Inggris Raya. Mereka warga Muhammadiyah dari berbagai kota di Inggris Raya, seperti Bristol, London, Leeds, Sheffield, Newcastle, hingga Edinburgh. Latar belakang mereka sebagian besar adalah mahasiswa, akademisi, dan permanent residentIndonesia yang tinggal di Inggris Raya.

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA – Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah melakukan kampanye anti kekerasan dan Pashmina (red. Pelayanan Remaja Sehat yang dikelola oleh Nasyiatul Aisyiyah), di Alun-alun Kidul, Ahad (27/12).

Kegiatan dalam rangka Peringatan Hari Ibu ini berupa pembagian stiker berisi pesan moral anti kekerasan dan pelayanan kesehatan. Ketua Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah Norma Sari mengatakan Nasyiah memaknai sehat bukan saja secara fisik, tetapi juga secara psikis termasuk dari kekerasan yang rentan dialami remaja perempuan.

Dalam acara ini pengunjung termasuk remaja putra dan putri bisa mendapatkan beberapa layanan yang tersedia di enam pos Pashmina.

Keenam pos tersebut antara lain: 1) pos indeks massa tubuh di mana pengunjung dapat mengukur tinggi dan berat badan. 2) pos ukur kadar Hb. 3) pos layanan kesehatan, 4) pos konsultasi psikologi. 5) pos gizi, dan 6) pos Edu.‘’Di pos inilah pengunjung dapat memperoleh informasi tentang pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta apa yang bisa dilakukan jika mengetahui atau mengalami kekerasan’’kata Norma.

Lebih lanjut dia mengatakan Hari Ibu adalah sebuah momentum untuk mengingat kembali semangat kaum perempuan dan kontribusinya dalam perbaikan kualitas bangsa. Dulu, pada tahun 1928 para ibu berkumpul di Yogyakarta dalam Kongres Perempuan pertama untuk membahas peran perempuan dalam mengatasi masalah-masalah bangsa, terutama pada perempuan dan anak. Seperti halnya masalah peran perempuan dalam pembangunan bangsa, perdagangan anak dan kaum perempuan, pendidikan untuk anak perempuan, masalah gizi dan kesehatan ibu dan balita, pernikahan usia dini, poligami, dan sebagainya.

Norma menambahkan, Nasyiatul Aisyiyah juga suatu organisasi yang bergerak dalam bidang keperempuanan, berkumpul untuk menyerukan kembali semangat anti kekerasan pada perempuan dan anak. ‘’Aksi Nasyiatul Aisyiyah ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran masyarakat untuk memerangi kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang setiap tahunnya semakin tinggi,’’tuturnya.

Dia mengungkapkan data dari Komnas Perempuan pada tahun 2014 menyebutkan angka kekerasan terhadap perempuan sebesar 293.220 kasus, meningkat dari tahun sebelumnya (2013) sebanyak 279.688 kasus. Kasus kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi di ranah personal (keluarga dan relasi intim) yakni 59 persen kasus kekerasan berupa kekerasan terhadap istri.

Selanjutnya untuk kekerasan pada anak, menurut catatan KPAI terjadi adanya peningkatan kasus yang signifikan setiap tahunnya. Tahun 2011 terjadi 2178 kasus, 2012 ada 3512 kasus, 2013 ada 4311 kasus, 2014 ada
5066 kasus. Dari keseluruhan kasus tersebut, kasus tertinggi adalah kasus anak berhadapan dengan hukum (ABH), diikuti kasus pengasuhan, kasus pendidikan, kasus kesehatan dan napza, serta kasus pornografi dan cybercrime.

Dengan semakin tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak, Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi perempuan muda Muhammadiyah dengan tagline gerakan ramah perempuan dan anak dan mendasarkan gerakannya pada cita-cita kemanusiaan, berusaha berkontribusi aktif dalam pencegahan maupun penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.

UMS-Sesuai dengan program kerjanya (proker) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Ilmu Komunikasi (FKI) menggelar acara Pekan FKI dengan memilih tema ““Bingkai Kreasi Kita”. Sebagai salah satu agenda Pekan FKI sekaligus puncak acara, Expo Awarding Night mempersembahkan beberapa hiburan dan membuka lebih dari 22 stan yang bertempat di GOR kampus 2 UMS pada Jumat sampai Sabtu (27-28/11/2015).

Selaku Ketua pelaksana, Edi Riyanto menuturkan bahwa agar BEM FKI tidak terkesan monoton maka digelar Pekan FKI 2015 selama dua hari. Memilih tema “Bingkai Kreasi Kita”, mempunyai harapan guna mewarnai dan memberi ciri khas tersendiri bagi BEM FKI. “Expo Awarding Night sebagai puncak acara pekan FKI, akan ada penyerahan hadiah-hadiah pada akhir acara bagi pemenang lomba yang telah diselenggarakan sebelumnya. Acara Expo Awarding Night ini bertujuan sebagai hiburan sekaligus pembelajaran, dan acara ini dibuka untuk umum tanpa biaya masuk”, tuturnya Sabtu (28/11).

BEM beserta Organisai Mahasiswa (Ormawa) FKI bekerjasama sebagai pihak pengendali dengan tujuan agar acara dapat lebih berwarna. Edi mengaku kendala yang dialami dalam menyelenggarakan acara Expo Awarding Night yaitu pada pelaksanaan acara. Perencanaan acara sudah matang tetapi saat pelaksanaan ada perubahan rundown acara sehingga mengalami pergantian rencana sebelumnya.

Salah seorang pengunjung, Abdurrahman dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) mengatakan bahwa dirinya cukup senang saat datang pada acara Expo Awarding Night ini. Selain disuguhkan dengan berbagai hiburan, dirinya juga bisa melihat berbagai stan yang didirikan. “Harapan kedepannya agar acara ini tetap didakan setiap tahunnya dan lebih meriah lagi”, katanya Sabtu (28/11/2015).