SURAKARTA – Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Komunikasi dan Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menggelar Visiting Lecture bertema “Managing Reputational Risks in the Digital Era” pada Jumat (5/12/2025).
Kegiatan yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan pembicara internasional, Prof. Gedala Mulliah Naidoo, Wakil Dekan Bidang Research, Innovation and Community Engagement dari University of Zululand, Afrika Selatan.
Acara ini diikuti oleh mahasiswa Ilmu Komunikasi UMS sebagai bagian dari penguatan wawasan akademik dan kompetensi global di bidang Public Relations.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UMS, Sidiq Setyawan, S.I.Kom., M.I.Kom., dalam sambutannya menyampaikan bahwa Visiting Lecture ini merupakan bentuk komitmen prodi dalam memperluas pengalaman belajar mahasiswa di tingkat internasional. Ia menegaskan bahwa menghadirkan pengajar dari luar negeri tidak hanya memberikan wawasan baru, tetapi juga menumbuhkan budaya berpikir kritis di kalangan mahasiswa.
Sidiq berharap kegiatan ini mampu menginspirasi mahasiswa serta membuka peluang kolaborasi internasional antara dosen, praktisi, dan mahasiswa.
“Kami juga berharap kegiatan ini membuka peluang kolaborasi antara pengajar, praktisi dan mahasiswa,” ungkapnya.
Menurutnya, tema yang diangkat sangat relevan dengan perkembangan teknologi digital yang memengaruhi dinamika komunikasi masa kini.
Dalam paparannya, Prof. Naidoo menjelaskan bahwa risiko reputasi merupakan ancaman besar yang dihadapi organisasi di era digital, terutama ketika kepercayaan publik menjadi aset tak berwujud paling berharga.
“Risiko reputasi adalah ancaman hilangnya kepercayaan publik — yang sekarang dianggap sebagai salah satu aset tak berwujud terbesar dari organisasi mana pun,” ungkap Prof Naidoo.
Ia memaparkan bahwa risiko reputasi dapat dipicu oleh empat faktor utama: misinformasi yang cepat menyebar, perilaku tidak etis, pengalaman buruk pelanggan yang viral, serta ketidaksesuaian antara nilai organisasi dan tindakan nyata di lapangan.
Prof. Naidoo juga menekankan lima pelajaran penting dalam mengelola reputasi di era digital. Pertama, organisasi harus menjunjung transparansi dan keaslian karena publik menuntut keterbukaan. Kedua, perlunya pemantauan krisis secara berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi seperti AI-driven social listening dan analisis sentimen untuk mendeteksi isu sejak dini. Ketiga, organisasi harus mampu merespons cepat dan penuh empati, karena kecepatan yang disertai empati terbukti melindungi reputasi. Keempat, strategi komunikasi harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing platform digital. Kelima, organisasi perlu membangun hubungan kuat dengan pemangku kepentingan sebelum krisis terjadi melalui budaya etis dan keterlibatan komunitas.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diarapkan mendapatkan pemahaman komprehensif mengenai pentingnya manajemen reputasi di tengah derasnya arus informasi digital. Prodi Ilmu Komunikasi UMS berharap wawasan yang diperoleh dapat membekali mahasiswa untuk menghadapi tantangan komunikasi masa depan dengan lebih siap, kritis, dan berperspektif global. (Risqi Sonjaya)
